LBM 1 “ Nyeri NaciSeptik”
Step 1
Nyeri Orofacial : (Nyeri) pada bag.mulut dan wajah
Nociseptik : Nyeri yg bersifat somatic , yaitu dsbarkan mlalui saraf perife berasal dr proses infeksi ato radang, byasa terjadi d kulit, sendi dan otot
Ngilu : Sensasi rasa tidak nyaman yg ringan yg tmbul bila mnerima rangsangan(suhu, rasa, tekanan)
Intra oral : Lingkungan ddalam rongga mulut
Nyeri : Suatu persaan yg tdk nyaman akibat kerusakan jaringan(karna adanya penyakit)
Demam : suatu perubahan suhu ddalam tubuh karnapeningkatan aliran darah, salah satu pnybabny ada antigen asing yg masuk dalam tubuh.
Step 2
Hubungan Nyeri orofasial dan nyeri nosiseptik
Nyeri nosiseptik
Step 3
OROFACIAL
definisi (mnurudt kamus kedokteran) : bertautan dgn mulut dan wajah
anatomi(nervus, vaskularisasi) : Nervus V, VII, IX, X, XII. LI
definisi nyeri Orofacial + nyeri kepala : Suatu persaan yg tdk nyaman akibat kerusakan jaringan(karna adanya penyakit) pada bag.mulut dan wajah. Nyeri kepala: LI
macam + ciri2 nyeri Orofacial :Nyeri Nosiseptik, Nyeri neuropatik, Nyeri Idiopatik, Nyeri Psikologik(Ciri2 LI)
Penyebab terjadinya nyeri Orofacial : Trauma fisik, suhu, tekanan, peradangan(inflamasi), infeksi, idiopatik
Intansitas nyeri pd Orofacial :LI
Mekanisme pada macam2 nyeri Orofacial :
Nosisepti : transduksi(stimulus d ubah jd impuls), transmisi(dbwa k medula spenalis), modulasi(bereaksi .... di endogen), persepsi
Pemeriksaankan standar dan penunjang dlm menentukan diagnosis nyeri Orofacial : anamnesis, pemeriksaan intaoral-ekstraoral, vital sign, pemeriksaan penunjang(rontgen, electro encepalon graph(eeg), ct scan
NOSISEPTIK
definisi
letak nyeri
penyebab nyeri
mekanisme nyeri nosiseptik(patofisiologi)
DEMAM
1. Patofisiologi
Step 4
Keterangan : Agent (berupa bakteri, virus dan parasit) yang meradang dapat menyebabkan infeksi, akan mempengaruhi kerja inervasi dan vaskularisasi di organ orofacial sehingga dapat menyebabkan nyeri orofasial dan dapat ditandai dengan keadaan demam tubuh.
Step 5
OROFACIAL
1. definisi (mnurudt kamus kedokteran) :
area yg mliputi wajah dan kepala
2. anatomi(nervus, vaskularisasi) :
2.1 Anatomi otot-otot orofasial
2.1.2 Otot-otot bibir dan pipi
1. Otot spincter bibir (Lee,2006)
Otot spincter bibir adalah orbicularis oris yang membentuk sebagian jaringan pada bibir. Memiliki koneksi yang luas terhadap muskulus-muskulus yang terdapat dalam rongga mulut.
¬ Origo dan insersio (Snell,1991)
Serat-serat berjalan melingkari orificium oris di dalam substansi bibir. Beberapa serat berawal di tengah garis maxilla dan berjalan serong ke membran mukosa permukaan dalam bibir. Umumnya serat-serat ini berasal dari muskulus buccinator.
¬ Persarafan : Cabang bukal dan mandibular n.fasialis
¬ Fungsi : Merapatkan bibir
2. Otot dilator bibir (Snell,1991)
a. M.levator labii superior
b. M.zygomaticus mayor dan minor
c. M.levator anguli oris
d. M.risorius
e. M.depressor anguli oris
f. M.depressor labii inferior
g. M.mentalis
3. Otot pipi (Lee,2006)
Muskulus buccinator berada di maksila dan mandibula pada daerah molar dan masuk kedalam muskulus-muskulus di dekitar sudut mulut. Membentuk sebagian besar dinding lateral pipi. Menyimpan makanan di dalam rongga mulut pada saat proses mastikasi. Muskulus buccinator diinervasi oleh cabang bukal nervus fasialis dan mendapat suplai darah dari maksila dan arteri fasial.
4. Otot pengunyah (Snell,1991)
Yang termasuk otot pengunyah adalah masseter, temporalis, pterygoideus lateralis dan medialis
Muskulus masseter --> Masseter adalah salah satu otot yang paling kuat dilihat dari ukurannya pada tubuh. Terdapat pada bagian lateral arcus zigomaticus dan memasuki angulus mandibula. Fungsi muskulus masseter adalah mengangkat mandibula untuk merapatkan bibir waktu mengunyah.
Muskulus temporalis. Fungsi muskulus temporalis adalah mengangkat mandibula dan mengembalikan posisi mendibula
Muskulus pterygoideus lateralis. Fungsi muskulus pterygoideus lateralis adalah menarik collum mandibula ke depan
Muskulus pterygoideus medialis. Fungsi muskulus pterygoideus medialis adalah mengangkat mandibula
5. Otot-otot lidah (Lee,2006)
Otot-otot lidah terdiri dari 2 yaitu
Otot-otot intrinsik lidah
Muskulus genioglossus. Berfungsi menarik lidah ke depan dan menjulurkan ujung lidah ke sisi yang berlawanan. Bila kedua otot berkontraksi bersama, lidah akan menjulur bersama. Otot ini juga mendepresi lidah
Muskulus styloglossus. Berfungsi menarik lidah ke atas dan ke belakang
Muskulus palatoglossus. Berfungsi menarik radix linguae ke atas dan ke belakang
Muskulus hyoglossus. Berfungsi untuk depresi lidah
Otot-otot ekstrinsik lidah
Otot-otot ekstrinsik lidah terdiri dari muskulus vertikal, musculus transversal, dan muskulus longitudinal superior dan inferior
Primarti, Risti S. 2007. Deteksi Dini Ketidakseimbangan Otot Orofasial Pada Anak. Jurnal PDGI, Edisi Khusus PIN IKGA. Jakarta : PDGI
Snell, 1991. Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Alih Bahasa Jan Tambajong dari Clinical Anatomy For Medical Students. Jakarta : EGC
VASKULARISASI OROFACIAL
Wajah mendapat perdarahan dari :
a. arteri facialis
cab.nya:
a.labialis suporior dan inferior
rami nasalis lateralis
a.angularis
b. arteri temporalis superficialis
cab.ny:
a.frontalis
a.parietalis
a.transversa facei
c. arteri maxilaris interna
mrupakan cab.dr terminal a.carotis eksterna, dbagi 3 bagian:
Pars mandibularis.
a.auricularis profunda
a.tympanika anterior
a. meningea media
a.alveolaris inferior
Pars Pterigoideus.
a.temporalis profunda
rami pterygoidea
a.maseterica
a.buccalis
Pars Pterigoplatina
a.alveolaris superior posterior
a.infra orbitalis
a.alveolaris superior anterior dan medius
a.palatina descenden
a.canalis pterigoidea
rami pharungealis
a.sphenopalatina
CAVUM ORIS
-Arteri Lingualis, cab.nya:
Remi dorsalis linguae
a.profunda linguae
a.sublingualis
-Arteri palatina mayor
-Arteri palatina minor
3. definisi nyeri Orofacial + nyeri kepala :
Penggolongan nyeri kepala
Tension
Ditandai dengan nyeri yang hilang timbul, dapat menyerang bagian depan maupun belakang kepala. Tanda yang khas adalah terjadinya kekakuan selain adanya rasa nyeri. Penyebab nyeri jenis ini antara lain yang paling sering terjadi adalah posisi duduk saat menggunakan komputer. Posisi penempatan komputer yang tidak pas dengan posisi kepala akan memicu nyeri kepala jenis tension ini.
Migrain
Nyeri kepala yang terjadi akibat ketidaknormalan vaskuler ini biasanya menyerang dimulai dari dalam dan sekitar mata atau pelipis, menyebar ke satu atau dapat juga dua sisi kepala, namun yang paling sering terjadi hanya di salah satu sisi kepala. Nyeri diikuti rasa berdenyut, hilangnya nafsu makan, bahkan disertai mual dan muntah. Ketegangan psikologis dan faktor genetik diduga menjadi penyebab migrain.
Cluster
Nyeri jenis ini terutama dialami oleh pria, biasanya menyerang satu sisi kepala, terjadi secara periodik diselingi adanya masa ketika ada keadaan terbebas nyeri. Gejala khas dari nyeri ini yaitu pembengkakan mata, hidung meler, dan mata ber-air di sisi nyeri.
Kelainan sinus
Merupakan nyeri yang bersifat akut dan sub-akut, terjadi di kepala bagian depan, bersifat tumpul dan berat. Pada pagi hari, dalam keadaan yang dingin dan lembab, nyeri ini muncul kembali, nyeri ini sebagaian besar terjadi di tulang dahi dan tulang pipi.
Nyeri kepala jenis lain masih ada, namun jarang terjadi. Contohnya nyeri tumor otak, nyeri karena adanya produksi cairan di otak akibat infeksi toksoplasma, infeksi pada selaput otak/meninges, dan nyeri karena hipertensi.
4. macam + ciri2 nyeri Orofacial
Klasifikasi Nyeri Nyeri dapat merupakan ‘nyeri akut’ ataupun ‘nyeri kronik’.
• Nyeri akut, biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan akut yang berlangsung dalam hitungan beberapa detik sampai beberapa hari.
• Nyeri kronik, di definisikan sebagai nyeri yang menetap, timbul setelah proses akut membaik, yang menetap dalam waktu beberapa bulan atau lebih.
Tipe Nyeri
A. Nyeri Nosiseptif , yaitu nyeri yang timbul akibat terjadinya aktivasi reseptor nyeri yang berasal dari jaringan permukaan maupun jaringan dalam tubuh. Dibedakan menjadi 2 type, yaitu nyeri somatik dan nyeri viscera
- Nyeri somatic, disebabkan oleh kerusakan di kulit, otot, tulang, sendi, dan jaringan ikat. Biasanya melibatkan proses inflamasi dari jaringan yang rusak. Meskipun inflamasi adalah respon normal tubuh terhadap kerusakan jaringan, dan penting untuk proses penyembuhan, inflamasi yang berlangsung lama dan menetap dapat mengakibatkan terjadinya nyeri kronik. Contoh nyeri nosiseptif somatic adalah rheumatoid arthritis
- Nyeri viscera, adalah nyeri yang berasal dari kerusakan yang terjadi pada organ dalam atau jaringan penunjangnya.
B. Nyeri Neuropatik merupakan nyeri yang timbul sebagai akibat perubahan yang terjadi pada system syaraf, nyeri seringkali menetap meskipun kerusakan jaringan sudah sembuh. Pada banyak kasus, kerusakan yang menyebabkan nyeri ini bisa melibatkan system syaraf tepi ataupun system syaraf pusat itu sendiri. Hal ini bisa berhubungan dengan trauma ataupun penyakit tertentu, misalnya diabetes. Contoh nyeri neuropatik ini, al : diabetes neuropati, trigeminal neuralgia, neuralgia postherpetica, dll.
C, Nyeri Psikogenik adalah semua jenis nyeri yang berhubungan dengan problem psikis. Sebagian penderita nyeri kronik biasanya juga mengalami gangguan psikis, misalnya gangguan depresi atau cemas akibat nyeri kronik yang dideritanya. Ini berarti bahwa kondisi psikis pasien dengan nyeri kronik juga merupakan aspek penting yang harus diperhatikan dalam terapi nyeri.
D. Nyeri Campuran atau Non Spesifik biasanya dipandang sebagai nyeri dengan mekanisme yang tidak diketahui atau dicurigai mempunyai mekanisme yang bermacam-macam. Contoh nyeri kepala rekuren.
5. Penyebab terjadinya nyeri Orofacial :
-Rasa nyeri itu timbul dkrenakan adanya lesi, adanya g3 sbuah jar., adanya g3an otot, g3an saraf
-Karna kondisi oklusi(pncetus t’jadi TMJ), trauma (MAKROTRAUMA: KECELAKAAN, MIKRO:TERJADI PD GIGI SENDI RAHANG OTOT), stress emosional, deep pain input(Aktivitas parafungsional)
- Berdasarkan factor penyebab rasa nyeri ada yang sering dipakai dalam istilah nyeri osteoneuromuskuler, yaitu :
1. Nociceptor mechanism.
2. Nerve or root compression.
3. Trauma ( deafferentation pain ).
4. Inappropiate function in the control of muscle contraction.
5. Psychosomatic mechanism.
6. Intansitas nyeri pd Orofacial :
Skala nyeri i: tidak nyeri (none), nyeri ringan (mild, slight), nyeri sedang (moderate), nyeri berat (severe) dan sangat nyeri (very severe, intolerable).
1) skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
0 :Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.
Dpt dlihat dgn bantuan alat SAV SKALA ANALOG VISUAL (0-10)
Metode pngukuran nyeri : AMBANG NYERI
7. Mekanisme pada macam2 nyeri Orofacial :
Nyeri Nosiseptik
-Transduksi : Stimulus noksius yang kemudian ditransformasikan menjadi impuls berupa suatu aktifitas elektrik pada ujung bebas saraf sensorik.
-Transmisi : Propagasi atau perambatan dari impuls tersebut pada sistem saraf sensorik
-Modulasi : Proses interaksi antara sistem analgesik endogen dengan input nyeri yang masuk di kornu posterior medula spinalis
-Persepsi: Adanya interaksi antara transduksi, transmisi, dan modulasi yang kemudian membentuk suatu pengalaman emosional yang subjektif.
Adanya rangsangan yang diterima tubuh, menyebabkan sel akan mengalami luka. Dinding sel terdiri datas komponen fosfolipid (fosfat dan lemak), adanya luka sel akan menyebabkan lepasnya enzim fosfolipase A2. Enzim ini menyebabkan diproduksinya asam arakidonat (ARA) oleh sel yang akan dilepaskan dalam darah. ARA tidak diam saja, namun akan berubah bentuk menjadi senyawa mediator nyeri seperti prostaglandin (PG), prosasiklin (PGI) dan tromboksan A2 (TX).
Pembentukan senyawa-senyawa ini terjadi karena dalam tubuh terdapat enzim siklooksigenase (COX). Selain melaui enzim COX, dapat juga ARA diubah bentuknya oleh enzim lain dalam jalur nyeri ini yakni lipooksigenase membentuk leukotrien (LT1).
Mediator-mediator nyeri / autakoid tersebut akan menyebabkan meningkatnya potensial saraf, khususnya yang diserabut saraf Ad dan C di sumsum tulang belakang (spinothalamic cord).
Nyeri neuropatik
muncul karena: sensitisasi perifer, ectopic discharge, sprouting, sensitisasi sentral, dan disinhibisi. Perubahan ekspresi dan distribusi saluran ion natrium dan kalium terjadi setelah cedera saraf, dan meningkatkan eksitabilitas membran, sehingga muncul aktivitas ektopik yang bertanggung jawab terhadap munculnya nyeri neuropatik spontan (Woolf, 2004).
Richeimer,S.Understanding nociceptive and neuropathic pain.
8. Pemeriksaankan standar dan penunjang dlm menentukan diagnosis nyeri Orofacial :
biasanya dokter harus melakukan tiga hal.
Pertama, anamnesi atau wawancara dengan pasiennya yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik.
Jika masih belum diketahui penyebab nyerinya, dilakukan penunjang, misalnya dengan CT Scan, Magnetic Resonance Imaging (MRI), atau Electro Myography (EMG).
Jika nyeri yang diderita merupakan nyeri nosiseptif, dokter akan menanyakan dulu secara lisan apa keluhannya dan masalahnya di mana. Jika yang terasa nyeri di bagian pinggang, dokter akan memeriksa apakah nyerinya disebabkan oleh gangguan pada jaringan otot, tulang, atau referral pain (nyeri alih), misalnya dari ginjal, atau sebenarnya nyeri syaraf (neuropatik).
Jika hanya ototnya saja yang sakit, cukup dilakukan pemeriksaan fisik, misalnya bagian yang sakit ditekan. Jika ternyata sakitnya merupakan nyeri referral dari ginjal, bisa dilakukan Ultra Sonography (USG) untuk melihat ginjalnya. Namun, jika nyeri syaraf, pemeriksaan dilakukan dengan MRI atau EMG.
Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, baru dokter bisa mengatakan dengan pasti nyeri yang dideritanya, penyebabnya, sampai terapi yang harus diterima pasien.
NOSISEPTIK
1. definisi :
nyeri yang terjadi karena adanya kerusakan jaringan yang kemudian secara langsung atau melalui substansi yang ditimbulkannya akan merangsang reseptor nyeri dari serat aferen
2. letak nyeri :
nyeri yg bersifat somatik, d kulit, otot, tendo, sendi, dura, viscera
3. penyebab nyeri :
ditimbulkan oleh suatu cedera atau rangsangan yang cukup kuat untuk berpotensi mencederai (berbahaya) sehingga dapat dikatakan bahwa nyeri merupakan suatu mekanisme perlindungan (Guyton dan Hall, 2007).
Berdasarkan factor penyebab rasa nyeri ada yang sering dipakai dalam istilah nyeri osteoneuromuskuler, yaitu :
1. Nociceptor mechanism.
2. Nerve or root compression.
3. Trauma ( deafferentation pain ).
4. Inappropiate function in the control of muscle contraction.
5. Psychosomatic mechanism.
4. mekanisme nyeri nosiseptik(patofisiologi)
Proses fisiologik terjadinya nyeri melewati empat proses tersendiri, yaitu transduksi, transmisi, modulasi dan persepsi nyeri. Transduksi nyeri adalah proses rangsangan yang mengganggu sehingga menimbulkan aktivitas listrik di reseptor nyeri. Transmisi nyeri merupakan proses penyaluran impuls nyeri dari tempat transduksi melewati saraf perifer sampai ke terminal di medulla spinalis dan jaringan-jaringan neuron pemancar yang naik dari medula spinalis ke otak. Modulasi nyeri melibatkan aktivitas saraf melalui jalur-jalur saraf desendens dari otak yang dapat memengaruhi transmisi nyeri setinggi medula spinalis dan aktivitas faktor kimiawi yang menimbulkan atau meningkatkan aktivitas di reseptor nyeri aferen primer. Proses terakhir, persepsi nyeri adalah pengalaman subjektif nyeri yang dihasilkan oleh aktivitas transmisi nyeri oleh saraf (Hartwig dan Wilson, 2005).
- Adanya rangsangan yang diterima tubuh, menyebabkan sel akan mengalami luka. Dinding sel terdiri datas komponen fosfolipid (fosfat dan lemak), adanya luka sel akan menyebabkan lepasnya enzim fosfolipase A2. Enzim ini menyebabkan diproduksinya asam arakidonat (ARA) oleh sel yang akan dilepaskan dalam darah. ARA tidak diam saja, namun akan berubah bentuk menjadi senyawa mediator nyeri seperti prostaglandin (PG), prosasiklin (PGI) dan tromboksan A2 (TX).
Pembentukan senyawa-senyawa ini terjadi karena dalam tubuh terdapat enzim siklooksigenase (COX). Selain melaui enzim COX, dapat juga ARA diubah bentuknya oleh enzim lain dalam jalur nyeri ini yakni lipooksigenase membentuk leukotrien (LT1).
Mediator-mediator nyeri / autakoid tersebut akan menyebabkan meningkatnya potensial saraf, khususnya yang diserabut saraf Ad dan C di sumsum tulang belakang (spinothalamic cord).
DEMAM
1. Patofisiologi
penimbulan demam karena endotoksin bakteri merangsang sel lekosit (PMN) membuat pirogen endogen (PE) yang bekerja di hipotalamus membentuk prostaglandin yang akan meningkatkan set-point. Demam yang terjadi pada keganasan, infeksi virus, penyakit darah, kolagen, gangguan metabolik, alergi, juga disebabkan pelepasan PE, tetapi
sumber PE bukan sel PMN.
HASIL SGD BLOK 9 LBM 1
OROFACIAL PAIN
“NYERI NOCISEPTIK”
SGD 5
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2008
12 Oktober, 2009
23 Agustus, 2009
zzzzZZzzz....
eMMMM...
SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN.....
LIbur nui,,,,,bis Tu ikut ngurus faKUltaer.....
aYo ayo pada jdi pengikut di BloG ini dunk....
HibERNAsi duLu yaw....
SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN.....
LIbur nui,,,,,bis Tu ikut ngurus faKUltaer.....
aYo ayo pada jdi pengikut di BloG ini dunk....
HibERNAsi duLu yaw....
22 Juli, 2009
bLok 8,4_ronTgen
STEP 1
1. Foto Rontgen : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm
Foto yg mnggunakan smber sinar pegion dan bukan pegion, gel.suara, dan mahnet u/ diagnostik dan terapi
2. sinar X : Macam dari sinar pegion
3. Proteksi diri dari Radiasi Sinar X : Melindungi diri dari akibat pancaran radiasi sinar X
4. Radiasi : Pancaran Energi dr sumbernya, brupa : photon dlm bntuk gel.radio, sinar x ato sinar gamma
STEP2
• TEKNIK FOTO DAN KEHARUSAN DALAM RONTGEN GIGI
• TEKNIK PEMOTRETAN DALAM FOTO RONTGEN
• PENGGUNAAN FOTO RONTGEN DALAM KG
STEP 3
RONTGEN : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm.
1. FUNGSI DAN TUJUAN :
FUNGSI DAN TUJUAN : UTK MENDIAGNOSIS JAR DENTAL SKELETAL YG TDK TERLIHAT SECARA KLINIS , MENENTKAN WAKTU ERUPSI.
2. MACAM RONTGEN DALAM KG : PERI APIKAL , PANORAMIK , CHEPALO , CLOSE UP , BITE WINGS
3. ALAT : LI FILM
4. TEKNIK FOTO DAN INTERPRETASI :
5. JENIS PEMERIKSAAN RONTGEN :
DASAR : PEMERIKSAAN RONTGEN TANPA KONTRAS SEPERTI TORAKS , CRANIUM , DALAM PEMERIKSAAN RONTGEN DGN BAHAN KONTRAS SEPERTI GASTER, URINARIUM
KHUSUS : PEMERIKSAAN ARTERIOGRAFI, DIPERLUKAN ALAT KHUSUS
6. KELEBIHAN KEKURANGAN :
KELEBIHAN : BISA MELIHAT ORGAN YG TDAK TERLIHAT OLEH KASAT MATA
KEKURANGAN : MAHAL , BAHAYA BAGI IBU HAMIL
7. INDIKASI DALAM RONTGEN : LI
RADIASI SINAR X
1. DEFINISI RADIASI : Pancaran Energi dr sumbernya, brupa : photon dlm bntuk gel.radio, sinar x ato sinar gamma
2. DEFINISI SINAR X : Macam dari sinar pegion
3. SIFAT RADIASI :
4. EFEK RADIASI ( JAR GIGI , JAR TUBUH , DSK ) : KANKER , DAPAT MENYEBABKAN KERUSAKAN PADA JAR TUBUH , KERUSAKAN GEN ,
5. SIFAT SINAR X : MEMILIKI DAYA TEMBUS , MENGALAMI ETANUASI , MENIMBULKAN RADIASI SEKUNDER, MEMILIKI EFEK FOTOGRAFIS
6. EFEK SINAR X : KANKER , DAPAT MENYEBABKAN KERUSAKAN PADA JAR TUBUH , KERUSAKAN GEN , KEMANDULAN
7. PROSES TERJADINYA SINAR X : BAYU
8. SUMBER RADIASI : SINAR X
9. KEGUNAAN RADIASI DALAM KG : UNTUK MEMBUAT GAMBARAN GIGI, TULANG DAN JAR LUNAK, PADA FILM.
10. SATUAN DALAM RADIASI :
RONTGEN : (R)
GRAY ( GY )
BECQUEREL ( BQ )
CURIE
REM
11. PERATURAN2 YANG BERLAKU DALAM PROTEKSI RADIASI ( OPERATOR , PASIEN , RUANGAN ) : STERIL , PSIEN TDK BOLEH MENGGUNAKAN PERHIASAN , SELAMA PEMERIKSAAN, PASIEN TDK BOLEH BERGERAK , DAN ORG DISEKITAR PASIEN TDK BOLEH DI DEKAT TEMPAT PEMERIKSAAN .
STEP 7
RONTGEN
1. DEFINISI : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm
Foto yg mnggunakan smber sinar pegion dan bukan pegion, gel.suara, dan mahnet u/ diagnostik dan terapi
2. FUNGSI DAN TUJUAN :
1. Untuk mendeteksi lesi, dll.
2. Untuk membuktikan suatu diagnosa penyakit.
3. Untuk melihat lokasi lesi/benda asing yang terdapat pada rongga mulut.
4. Untuk menyediakan informasi yang menunjang prosedur perawatan.
5. Untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi.
6. Untuk melihat adanya karies, penyakit periodontal dan trauma.
7. Sebagai dokumentasi data rekam medis yang dapat diperlukan sewaktu waktu.
( Haring. 2000)
3.alat : Untuk
dapat menghasilkan suatu pencitraan sinar-X diperlukan beberapa instrumetasi yang baku
sebagai berikut :
1. Tabung sinar-X
Tabung sinar-X berisi filament yang juga
sebagai katoda dan berisi anoda. Filamen
terbuat dari tungsten, sedangkan anoda
terbuat dari logam anoda (Cu, Fe atau Ni).
Anoda biasanya dibuat berputar supaya
permukaannya tidak lekas rusak yang
disebabkan tumbukan elektron.
2. Trafo Tegangan Tinggi
Trafo tegangan tinggi berfungsi pelipat
tegangan rendah dari sumber menjadi
tegangan tinggi antara 30 kV sampai 100
kV. Pada trafo tegangan tinggi diberi
minyak sebagai media pendingin. Trafo
tegangan tinggi berfungsi untuk
mempercepat elektron di dalam tabung.
3. Instrumentasi kontrol
Sistem kontrol berfungsi sebagai pengatur
parameter pada pengoperasian pesawat
sinar-X.
Instrumentasi kontrol terbagi menjadi 5
modul yaitu :
a. modul Power supplay (Catu daya DC )
b. modul pengatur tegangan (kV)
c. modul pengatur arus (mA)
d. modul pengatur waktu pencitraan (S)
e. modul Kendali system
f. catu daya AC dari sumber PLN.
4.teknik foto dan interpretasi :
Jenis-jenis Foto Rontgen Gigi
Secara garis besar foto Rontgen gigi, berdasarkan teknik pemotretan dan
penempatan film, dibagi menjadi dua: foto Rontgen Intra oral dan foto Rontgen
extra oral.
1 Teknik Rontgen Intra oral
Teknik radiografi intra oral adalah pemeriksaan gigi dan jaringan sekitar
secara radiografi dan filmnya ditempatkan di dalam mulut pasien. Untuk
mendapatkan gambaran lengkap rongga mulut yang terdiri dari 32 gigi
diperlukan kurang lebih 14 sampai 19 foto. Ada tiga pemeriksaan radiografi intra
oral yaitu: pemeriksaan periapikal, interproksimal, dan oklusal. (Brocklebank.
1997)
- Teknik Rontgen Periapikal
Teknik ini digunakan untuk melihat keseluruhan mahkota serta akar gigi
dan tulang pendukungnya. Ada dua teknik pemotretan yang digunakan untuk
memperoleh foto periapikal yaitu teknik paralel dan bisektris, yang sering
digunakan di RSGM adalah teknik bisektris. Untuk menentukan gigi yang tidak ada, apakah karena telah dicabut,
impaksi atau agenese. Untuk menentukan posisi gigi yang belum erupsi terhadap
permukaan rongga mulut berguna untuk menetapkan waktu erupsi, Untuk
membandingkan ruang yang ada dengan lebar mesiodistal gigi permanen yang belum
erupsi.
- Teknik Bite Wing
Teknik ini digunakan untuk melihat mahkota gigi rahang atas dan rahang
bawah daerah anterior dan posterior sehingga dapat digunakan untuk melihat
permukan gigi yang berdekatan dan puncak tulang alveolar. Teknik
pemotretannya yaitu pasien dapat menggigit sayap dari film untuk stabilisasi film
di dalam mulut.
- Teknik Rontgen Oklusal
Teknik ini digunakan untuk melihat area yang luas baik pada rahang atas
maupun rahang bawah dalam satu film. Film yang digunakan adalah film oklusal.
Teknik pemotretannya yaitu pasien diinstruksikan untuk mengoklusikan atau
menggigit bagian dari film tersebut.
2 Teknik Rontgen Ekstra Oral
Foto Rontgen ekstra oral digunakan untuk melihat area yang luas pada
rahang dan tengkorak, film yang digunakan diletakkan di luar mulut. Foto
Rontgen ekstra oral yang paling umum dan paling sering digunakan adalah foto
Rontgen panoramik, sedangkan contoh foto Rontgen ekstra oral lainnya adalah
foto lateral, foto antero posterior, foto postero anterior, foto cephalometri,
proyeksi-Waters, proyeksi reverse-Towne, proyeksi Submentovertex.( Haring.
2000)
- Teknik Rontgen Panoramik
Foto panoramik merupakan foto Rontgen ekstra oral yang menghasilkan
gambaran yang memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila
beserta struktur pendukungnya. Foto Rontgen ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi
geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma. Untuk menentukan keadaan gigi dan jaringan pendukungnya secara
keseluruhan dalam satu Rontgen foto, Untuk menentukan urutan erupsi gigi, dll.
- Teknik Lateral
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan sekitar lateral tulang
muka, diagnosa fraktur dan keadaan patologis tulang tengkorak dan muka.
- Teknik Postero Anterior
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma, atau
kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Foto Rontgen ini juga dapat
memberikan gambaran struktur wajah, antara lain sinus frontalis dan ethmoidalis,
fossanasalis, dan orbita.
- Teknik Antero Posterior
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat kelainan pada bagian depan
maksila dan mandibula, gambaran sinus frontalis, sinus ethmoidalis, serta tulang
hidung.
- Teknik Cephalometri
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat
trauma penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat
digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan
palatum keras. foto rontgen seluruh tengkorak kepala yang diambil dari arah samping. Rotgen ini bermanfaat untuk melihat adanya permasalahan pada tulang rahang atas dan bawah, yang mungkin menyebabkan gigi tonggos atau pun cakil. Hal ini dimaksudkan sebagai pertimbangan dilakukannya terapi pada tulang rahang atas maupun bawah.
- Proyeksi Water’s
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat sinus maksilaris, sinus
ethmoidalis, sinus frontalis, sinus orbita, sutura zigomatiko frontalis, dan rongga
nasal.
- Proyeksi Reverse-Towne
Foto Rontgen ini digunakan untuk pasien yang kondilusnya mengalami
perpindahan tempat dan juga dapat digunakan untuk melihat dinding postero
lateral pada maksila.
10
- Proyeksi Submentovertex
Foto ini bisa digunakan untuk melihat dasar tengkorak, posisi kondilus,
sinus sphenoidalis, lengkung mandibula, dinding lateral sinus maksila, dan arcus
zigomatikus.
Interpretasi Dasar Foto
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan interprestasi foto yaitu:
1. Identitas: nama, nomor RM, tangal dan jam pembuatan foto, tindakan selanjutnya.
2. Ketajaman sinar, apabila terlalu radiopaque (terlalu terang) atau terlalu gelap (radiolusen), maka foto harus diulang karena akan terjadi salah interprestasi.
Dalam membaca foto rontgen, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah densitas atau derajat tebalnya bayangan hitam pada film. Para radiolog menggolongkan adanya empat densitas yaitu: gas atau udara, air, lemak dan logam. Radiograf paling baik dilihat dalam ruang agak gelap dengan sinar yang
mengarah langsung ke film; semua sinar dari luar harus dihilangkan. Radiograf
harus dipelajari dengan kaca pembesar untuk mendeteksi perubahan mendetil
densitas gambar. Berbagai intensitas sumber sinar juga harus tersedia. Hal ini
dapat menggantikan film overexposed atau underexposed atau film dengan
kesalahan proses. Banyak film dapat diselamatkan dengan cara ini, termasuk
menghindari pengulangan foto dan paparan radiasi tambahan ( Goaz, 1994).
5.jenis pemeriksaan rontgen :
Macam Pemeriksaan :
1. Pemeriksaan Tanpa Kontras
Pemeriksaan ini dipakai rutin dan sebagai pendahuluan yakni pembuatan radiografi thoraks dengan proyeksi dorsoventral, ventrodorsal, dan lateral. Pemeriksaan lainnya yaitu pembuatan radilologi thoraks proyeksi oblique kanan dan kiri, dengan esofagus diisi barium, dan pemeriksaan tembus (fluoroskopi). Pemeriksaan tembus berguna untuk menilai pulsasi jantung dan gerakan diafragma. Pemeriksaan ini harus dibatasi penggunaannya karena besarnya radiasi yang dipancarkan.
2. Pemeriksaan Dengan Kontras
Kontras dimasukkan melalui pembuluh darah ke dalam jantung diikuti pembuatan serial radiografi. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat kelainan-kelainan yang terdapat dalam jantung seperti: dinding jantung sebelah dalam, katub jantung dan pembuluh darah besar, serta gambaran sirkulasi jantung dengan paru. Pemeriksaan ini juga berguna untuk memberikan informasi keadaan jantung dan pembuluh darah sebelum dilakukan pembedahan.
6.kelebihan kekurangan :
kelebihan : bisa melihat organ yg tdak terlihat oleh kasat mata
kekurangan : mahal , bahaya bagi ibu hamil
7.indikasi dalam rontgen : dalam keadaan tertentu yg memerlukan pancabutan gigi.
disamakan dgn tujuan
RADIASI SINAR X
1. definisi radiasi : sinar X yang panjang gelombangnya range 10 sampai 0.01 nanometer.
2. definisi sinar x : macam dari sinar pegion
3. sifat radiasi :
4. efek radiasi ( jar gigi , jar tubuh , dsk )
Efek deterministik didefinisikan sebagai efek somatik yang meningkat.Efek ini berasal dari dosis radiasi yang cukup besar melebihi kebutuhan dalam radiologi diagnostik, dapat timbul segera setelah paparan atau beberapa bulan atau tahun setelah paparan. Contoh efek deterministik adalah katarak, eritema kulit,
fibrosis dan pertumbuhan dan perkembangan abnormal yang mengikuti paparan
pada uterus.
Efek stokastik didefinisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan terjadinya
keparahan tanpa dipengaruhi oleh ambang. Efek stokastik menunjukan respon all
or none, di modifikasi dengan faktor-faktor resiko individual. Efek ini dapat
timbul setelah paparan dengan dosis yang relative rendah seperti yang mungkin
terjadi dalam radiologi diagnostik. Kanker dan efek genetik merupakan efek stokastik (White & Pharoah 2000).
5. sifat sinar x : memiliki daya tembus , mengalami etanuasi , menimbulkan radiasi sekunder, memiliki efek fotografis
6. efek sinar x : Efek yang dapat ditimbulkan adalah kematian sel2 tubuh. Pemakaian dalam jangka waktu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan terjadi mutasi pada sel yang memicu kanker. Makanya biasanya ditetapkan rontgen ideal maksimal 3 bulan sekali. Diharapkan dalam tempo 3 bulan, sel2 tubuh yang rusak akibat sinar X terdahulu sudah regenerasi dan menjadi normal seperti sedia kala.
7. proses terjadinya sinar x : Sinar-X dapat terbentuk apabila partikel bermuatan misalnya electron oleh pengaruh gaya inti atom bahan mengalami perlambatan. Sinar-X yang tidak lain adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melalui proses ini disebut sinar-X bremsstrahlung. Sinar-X yang terbentuk dengan cara demikian mempunyai energi paling tinggi sama dengan energi kinetic partikel bermuatan pada waktu terjadinya perlambatan.
Andaikata mula-mula ada seberkas electron bergerak masuk kedalam bahan dengan energi kinetic sama, electron mungkin saja berinteraksi dengan atom bahan itu pada saat dean tempat yang berbeda-beda. Karena itu berkas electron selanjutnya biasanya terdiri dari electron yang memiliki energi kinetic berbeda-beda. Ketika pada suatu saat terjadi perlambatan dan menimbulkan sinar-X, sinar-X yang terjadi umumnya memiliki energi yang berbeda-beda sesuai dengan energi kinetik elektron pada saat terbentuknya sinar-X dan juga bergantung pada arah pancarannya. Berkas sinar-X yang terbentuk ada yang berenergi rendah sekali sesuai dengan energi elektron pada saat menimbulkan sinar-X itu, tetapi ada yang berenergi hampir sama dengan energi kinetik elektron pada saat elektron masuk kedalam bahan.
Dikatakan berkas sinar-X yang terbentuk melalui proses ini mempunyai spektrum energi nirfarik.
Sinar-X dapat juga terbentuk dalam proses perpindahan elektron elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah, misalnya dalam proses lanjutan efek fotolistrik. Sinar-X yang terbentuk dengan cara seperti ini mempunyai energi yang sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi yang berkaitan. Karena energi ini khas untuk setiap jenis atom, sinar yang terbentuk dalam proses ini disebut sinar-X karakteristik, kelompok sinar-X demikian mempunyai energi farik. sinar-X karakteristik yang timbul oleh berpindahnyaelektron dari suatu tingkat energi menuju ke lintasan k, disebut sinar-X garis K, sedangkan yang menuju ke lintasan l, dan seterusnya.
Sinar-X bremsstrahlung dapat dihasilkan melalui pesawat sinar-X atau pemercepat partikel. Rangkaian dasar pesawat sinar-X terlihat pada gambar di atas.pada dasarnya pesawat sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elektrode dalam tabung sinar-X, dan unit pengatur.bagian pesawat sinar-X yang menjadi sumber radiasi adalah tabung sinar-X. Didalam tabung pesawat sinar-X yang biasanya terbuat dari bahan gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung pesawat sinar-X dibuat hampa udara agar elektron yang berasal dari filamen tidak terhalang oleh molekul udara dalam perjalanannya menuju ke anode. Filamen yang di panasi oleh arus listrik bertegangan rendah (If) menjadi sumber elektron. Makin besar arus filamen If, akan makin tinggi suhu filamen dan berakibat makin banyak elektron dibebaskan persatuan waktu.
Elekitron yang dibebaskan oleh filamen tertarik ke anode oleh adanya beda potensial yang besar atau tegangan tinggi antara katode dan anode yang dicatu oleh unit sumber tegangan tinggi (potensial katode beberapa puluh hingga beberapa ratus kV atau MV lebih rendah dibandingkan potensial anode), elektron ini menabrak bahan target yang umumnya bernomor atom dan bertitik cair tinggi (misalnya tungsten) dan terjadilah proses bremsstrahlung.
Khusus pada pemercepat partikel energi tinggi beberapa elektron atau partikel yang dipercepat dapat agak menyimpang dan menabrak dinding sehingga menimbulkan bremsstrahlung pada dinding. Beda potensial atau tegangan antara kedua elektrode menentukan energi maksimum sinar-X yang terbentuk, sedangkan fluks sinar-X bergantung pada jumlah elektron persatuan waktu yang sampai ke bidang anode yang terakhir ini disebut arus tabung It yang sudah barang tentu bergantung pada arus filamen It. Namun demikian dalam batas tertentu, tegangan tabung juga dapat mempengaruhi arus tabung. Arus tabung dalam sistem pesawat sinar-X biasanya hanya mempunyai tingkat besaran dalam milliampere (mA), berbeda dengan arus filamen yang besarnya dalam tingkat ampere. Spektrum energi sinar-X pada pesawat sinar-X jenis ortho terlihat pada gambar dibawah. Spektrum garis yang biasanya muncul menunjukkan adanya sinar-X karakteristik. Pesawat sinar-X yang tidak dinyalakan atau tidak diberikan tegangan tinggi tidak memancarkan sinar-X. Dari uraian diatas kita ketahui bahwa bidang target dalam tabung sinar-X itulah sumber radiasi yang sebenarnya. Bidang ini disebut bidang fokus. Pada proses bremsstrahlung sinar-X mempunyai kemungkinan dipancarkan kesegala arah. Namun demikian bagian dalam tabung atau di sekitar tabung, misalnya logam penghantar anode gelas tabung dan juga rumah tabung yang biasanya terbuat dari logam berat menyerap sebagian besar sinar-X yang dipancarkan sehingga sinar-X yang keluar dari rumah tabung, kecuali yang mengarah ke jendela tabung sudah sangat sedikit. Sinar-X yang dimanfaatkan adalah berkas yang mengarah ke jendela bagian yang tipis dari tabung. Pesawat sinar-X energi tinggi (s/d tingkat MV) biasanya lebih dikenal dengan nama pemercepat partikel. Dalam pesawat ini percepatan elektron dilaksanakan bertingkat-tingkat sehingga pada waktu mencapai target mempunyai energi sangat tinggi, misalnya ada yang sampai setinggi 20 MV atau lebih. Energi sinar-X yang dipancarkan sudah tentu juga sangat tinggi. Sinar-X yang dipancarkan dari pesawat pemercepat partikel memiliki energi yang lebih seragam dibandingkan dengan yang dipancarkan melalui pesawat sinar-X energi rendah. Sasaran pada pesawat pemercepat partikel biasanya sangat tipis, karena ketika mencapai target elektron mempunyai energi yang sama, energi sinar-X yang dipancarkan juga hampir sama. Selain itu arah berkas sinar-X hampir seluruhnya kedepan.
8. sumber radiasi :
• Menurut Asalnya
– Radiasi Alam
• Radiasi dari luar angkasa --> Cosmogenic Radionuclide
1H3, 4Be7, 11Na22, 11Na24, 6C14
• Radiasi dari dalam bumi --> Primodial Radionuclide
19K40, deret 92U238 dan 90Th232
– Radiasi Buatan
• Reaktor Nuklir --> Reaksi inti tidak aktif dengan Neutron cepat
• Industri --> Gauging, PLTN
• Kesehatan --> Pesawat Sinar – X
* Linac, Afterloading ( Zat Radioaktif )
9. kegunaan radiasi dalam kg : untuk membuat gambaran gigi, tulang dan jar lunak, pada film.
10. satuan dalam radiasi :
rontgen : (r)
gray ( gy )
becquerel ( bq )
curie
rem
11.peraturan2 yang berlaku dalam proteksi radiasi ( operator , pasien , ruangan )
TUJUAN PROTEKSI RADIASI
• Mencegah penerimaan paparan radiasi baik terhaang memungkinkdap individu maupun lingkungan dalan intensitas yang memungkinkan terjadinya bahaya radiasi.
• Mencegah meningkatnya efek somatis non stokastik dan mengurangi frekwensi peluang timbulnya efek somatik stokastik
• Agar setiap pemanfaatn radiasi benar-benar dapat dipertanggung jawabkan
1. Desain dan paparan di ruangan radiasi
a. Ukuran Ruangan Radiasi
• Ukuran minimal ruangan radiasi sinar-x adalah panjang 4 meter, lebar 3 meter, tinggi 2,8 meter.
• Ukuran tersebut tidak termasuk ruang operator dan kamar ganti pasien.
b. Tebal Dinding
• Tebal dinding suatu ruangan radiasi sinar-x sedemikian rupa sehingga penyerapan radiasinya setara dengan penyerapan radiasi dari timbal setebal 2 mm.
• Tebal dinding yang terbuat dari beton dengan rapat jenis 2,35 gr/cc adalah 15 cm.
• Tebal dinding yang terbuat dari bata dengan plester adalah 25 cm.
c. Pintu dan Jendela
• Pintu serta lobang-lobang yang ada di dinding (misal lobang stop kontak, dll) harus diberi penahan-penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal.
• Di depan pintu ruangan radiasi harus ada lampu merah yang menyala ketika meja kontrol pesawat dihidupkan.
• Tujuannya adalah :
ã Untuk membedakan ruangan yang mempunyai paparan bahaya radiasi dengan ruangan yang tidak mempunyai paparan bahaya radiasi.
ã Sebagai indikator peringatan bagi orang lain selain petugas medis untuk tidak memasuki ruangan karena ada bahaya radiasi di dalam ruangan tersebut.
ã Sebagai indikator bahwa di dalam ruangan tersebut ada pesawat rontgen sedang aktif.
ã Diharapkan ruangan pemeriksaan rontgen selalu tertutup rapat untuk mencegah bahaya paparan radiasi terhadap orang lain di sekitar ruangan pemeriksaan rontgen.
• Jendela di ruangan radiasi letaknya minimal 2 meter dari lantai luar. Bila ada jendela yang letaknya kurang dari 2 meter harus diberi penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal dan jendela tersebut harus ditutup ketika penyinaran sedang berlangsung.
• Jendela pengamat di ruang operator harus diberi kaca penahan radiasi minimal setara dengan 2 mm timbal.
d. Paparan Radiasi
• Besarnya paparan radiasi yang masih dianggap aman di ruangan radiasi dan daerah sekitarnya tergantung kepada pengguna ruangan tersebut.
• Untuk ruangan yang digunakan oleh pekerja radiasi besarnya paparan 100 mR/minggu.
• Untuk ruangan yang digunakan oleh selain pekerja radiasi besarnya paparan 10 mR/minggu.
2. Perlengkapan Proteksi Radiasi
a.Pakaian Proteksi Radiasi (APRON)
Setiap ruangan radiasi disediakan pakaian proteksi radiasi dalam jumlah yang cukup dan ketebalan yang setara dengan 0,35 mm timbal.
b.Sarung tangan timbal
Setiap ruangan fluoroskopi konvensional harus disediakan sarung tangan timbal.
3. Alat monitor Radiasi
a. Film Badge
• Setiap pekerja radiasi dan/atau pekerja lainnya yang karena bidang pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi diharuskan memakai film badge setiap memulai pekerjaannya setiap hari.
• Film badge dipakai pada pakaian kerja pada daerah yang diperkirakan paling banyak menerima radiasi atau pada daerah yang dianggap mewakili penerimaan dosis seluruh tubuh seperti dada bagian depan atau panggul bagian depan.
b. Survey meter
Di unit radiologi harus disediakan alat survey meter yang dapat digunakan untuk mengukur paparan radiasi di ruangan serta mengukur kebocoran alat radiasi.
4. Pesawat Radiasi
a. Kebocoran tabung
Tabung pesawat rontgen (tube) harus mampu menahan radiasi sehingga radiasi yang menembusnya tidak melebihi 100 mR per jam pada jarak 1 meter dari fokus pada tegangan maksimum.
b. Filter
Filter radiasi harus terpasang pada setiap tabung pesawat rontgen.
c. Diafragma berkas radiasi
• Diafragma berkas radiasi pada suatu pesawat harus berfungsi dengan baik.
• Ketebalan difragma minimal setara dengan 2 mm timbal.
• Posisi berkas sinar difragma harus berhimpit dengan berkas radiasi.
d. Peralatan Fluoroskopi
• Tabir flouroskopi harus mengandung gelas timbal dengan ketebalan yang setara dengan 2 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 100 KV atau 2,5 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 150 KV.
• Karet timbal yang digantungkan pada sisi tabir flouroskopi harus mempunyai ketebalan setara dengan 0,5 timbal dengan ukuran 45 x 45 cm.
• Tabung peswat rontgen dengan tabir flouroskopi harus dihubungkan secara permanen dengan sebuah stop kontak otomatis harus dipasang untuk mencegah beroperasinya pesawat apabila pusat berkas radiasi tidak jatuh tepat di tengah-tengah tabir flouroskopi.
• Semua peralatan flouroskopi harus dilengkapi dengan tombol pengatur waktu yang memberikan peringatan dengan bunyi sesudah waktu penyinaran terlampaui. Penyinaran akan berakhir jika pengatur waktu tidak di reset dalam waktu satu menit.
5. Pemeriksaan Kesehatan
Setiap pekerja radiasi harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala sedikitnya sekali dalam setahun.
6. Kalibrasi Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen harus dikalibrasi secara berkala terutama untuk memastikan penunjukkan angka-angkanya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
7. Dosis Radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi
• Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi didasarkan atas rumus dosis akumulasi :
D = 5 ( N - 18 ) rem
D :Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi selama masa kerjanya
N :Usia pekerja radiasi yang bersangkutan dinyatakan dalam tahun
18:Usia minimum seseorang yang diizinkan bekerja dalam medan radiasi dinyatakan dalam tahun
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu 1 tahun ialah 5 rem.
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu 13 minggu ialah 1,25 rem . Sedangkan untuk wanita hamil 1 rem.
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu satu minggu adalah 0,1 rem.
8. Ekstra Fooding
Rumah sakit berkewajiban menyediakan makanan ekstra puding yang bergizi bagi pekerja radiasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap radiasi.
9. Prosedur Kerja di Ruangan Radiasi
1. Menghidupkan lampu merah yang berada di atas pintu masuk ruang pemeriksaan.
2. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang sedang diperiksa.
3. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua yang tidak berkepentingan berada di luar ruangan pemeriksaan , sedangkan petugas berada di ruang operator. Kecuali sedang menggunakan flouroskopi maka petugas memakai pakaian proteksi radiasi.
4. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
5. Tidak menyalakan flouroskopi apabila sedang ada pergantian kaset.
6. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
7. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
8. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
9. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas sinar langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
10. Pemeriksaan radiologi tidak boleh dilakukan tanpa permintaan dari dokter.
10. Prosedur Kerja di Ruang ICU dengan menggunakan Mobile Unit X-Ray
1. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang sedang diperiksa.
2. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua petugas harus berada sejauh mungkin dari pasien dan memakai pakaian proteksi radiasi.
3. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
4. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
5. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
6. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
7. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas sinar langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
A. Keselamatan arus listrik
1. Arde listrik peralatan sinar-x
Arde dilakukan dengan menghubungkan permukaan metal/logam pada pesawat sinar-x ke tanah melalui konduktor tembaga. Konduktor ini bisa berupa:
• Satu lempeng tembaga yang ditempelkan ke permukaan metal/logam dari meja pemeriksaan, tuas penyangga tabung, tranformator dan control consoul dan menghu-bungkannya ke tanah. PERHATIKAN BETUL BAHWA LEMPENG LOGAMNYA BENAR-BENAR MENEMPEL.
• Satu konduktor bumi yang terdapat pada kabel utama dari pesawat sinar-x bergerak (mobile unit) yang terhubung pada bagian akhir dari rangkaian pesawat yang membutuhkan arde dan ujung yang lain pada konduktor bumi di dalam colokan listrik (pulg socket).
• INGAT, penggunaan kabel pe-nyambung (extention cable) atau adaptor akan meng-hambat kelancaran kerja dari konduktor bumi dan jangan digunakan, kecuali jika tidak terdapat alternatif lain. Tetapi, jika harus menggunakan kabel penyambung harap diingat ukuran dan besar kabel harus sama dengan kabel utamanya dan kedua ujung ardenya harus benar-benar tersambung dengan baik.
PERIKSALAH SECARA TERATUR KABEL DAN SAMBUNGAN PADA KEDUA UJUNG dengan kondisi seperti di bawah ini:
• Karet pembungkus kabel. Jika terdapat potongan atau kerusakan hendaknya segera diperbaiki atau diganti.
• Sambungan antara ujung kabel dan colokan listrik. Karet pembungkus kabel hendaknya terlindung di dalam kotak colokan listrik.
• Kotak colokan listrik. Jika kotak ini retak atau pecah hendaknya segera diganti.
• Ujung arde yang terdapat di dalam colokan listrik hendaknya terkait dengan baik. Setiap 6 bulan teknisi listrik atau petugas yang cakap harus mengecek keadaan ini. jika colokannya putus, maka jangan dimasukkan ke dalam soket listrik sampai ia benar-benar telah diperbaiki dan aman.
Catatan: Kerusakan dapat dicegah dengan penanganan yang cermat dan hati-hati terhadap peralatan sinar-x dan kabelnya. Jangan sampai kabel dalam keadaan tegang, kusut, menempel pada permukaan yang tajam saat digerakkan.
2. Sekering/Fuse
Peralatan listrik diperlengkapi dengan sekering sebagai alat pengaman untuk mencegah arus yang tidak sesuai pada saat melewati rangkaian. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memasang sekering yang benar nilainya.
Jika sekeringnya tidak berfungsi maka sebaiknya ditukar dengan yang lain pada nilai yang sama. Jika gagal lagi maka terdapat kerusakan pada rangkaian dan harus dicari sebabnya serta diperbaiki.
JANGAN PERNAH menaikkan nilai sekering, karena hal ini sangat bahaya dilakukan.
Beberapa model pesawat sinar-x mempunyai colokan listrik khusus, biasanya berwarna merah dan ditandai dengan “hanya sinar-x”. Hal ini jangan digunakan untuk pemakaian yang lain, karena ia colokan khusus tanpa sekering. Alat itu didisain khusus untuk menerima tegangan listrik pada saat eksposi yang amat sangat rendah, akan tetapi sangat berbahaya bila digunakan dengan tegangan listrik biasa yang tidak mempunyai peralatan pengaman khusus di dalam pesawat sinar-x nya.
3. Colokan dan soket listrik
Jika memungkinkan hendaknya semua soket listrik harus punya penghubung (switch) sehingga aliran listrik dapat diputus sebelum colokan dilepaskan.
INGAT, jangan pernah mencabut colokan dengan menarik kabelnya. Dengan cara mematikan penghu-bungnya adalah lebih baik, hal itu akan menghindari terjadinya bunga api pada colokan dan soket tetap baik.
Soket harus terhindar dari air atau cairan dan jangan ditempatkan pada tempat yang memungkinkan terjadinya percikan air atau air yang mengalir .
Jika peralatan kamar gelap –seperti tabung iluminator- membu-tuhkan penghubung listrik, maka kabelnya harus ditempatkan pada posisi yang aman dan jangan sampai tersentuh petugas yang sedang bekerja.
Jika colokan atau soket sudah berumur tua atau jika sekering penghubung tidak mengait dengan baik, maka ujung logam co-lokannya atau soketnya akan menjadi panas.
Kalau hal ini terjadi, hendaknya colokan atau soketnya harus diganti walaupun sebe-narnya disebabkan oleh ukuran kabel yang tidak sesuai dengan besar arus listrik yang mengalir.
Atau panggillah tenaga yang berkompeten tentang listrik untuk memperbaikinya.
4. Pelindung/pembungkus peralatan
Peralatan yang berisi komponen listrik harus mempunyai pelindung.
Pelindung ini untuk meyakinkan bahwa tidak ada komponen yang terkelupas dan bisa tersentuh. Bagian ini dirancang terpisah dengan bagian lain dan mempunyai pembungkus. Sehingga pembungkusnya harus selalu terlindung dengan baik dan jika rusak harus dipindahkan setelah semua peralatan listrik “diputus” , dan periksalah semua ujung peralatan, tidak ada yang menempel pada bagian lain.
Jika terdapat kerusakan pada bagian dalam dari peralatan hendaknya yang mengambil adalah teknisi listrik. Dan semua ujung peralatan harus dalam keadaan tidak ada arus listrik.
INGAT, periksa sekering apakah masih melekat ketika pelindung logam sedang diperbaiki.
5. Pembersihan peralatan
Jangan pernah menggunakan air atau lap basah untuk membersihkan peralatan listrik. Gunakanlah krim pembersih yang tidak mudah terbakar (non-flammable) seperti krim pembersih “bodi” mobil yang dengan mudah dapat dibeli di pasar.
6. Perbaikan peralatan
Perbaikan peralatan harus dilakukan oleh orang terlatih dan mem-punyai kecakapan untuk jenis pekerjaan tersebut.
7. Konsleting (electrical fire)
Peralatan listrik –karena kesalahan- bisa terjadi konsleting atau kelebihan arus listrik sehingga menjadi panas yang bisa mengakibatkan kebakaran.
Jika asap atau rasa panas terasa, peralatan yang ada harus diputus dari sambungan listriknya dengan segera.
Api yang timbul pada peralatan listrik biasanya tidak cepat merambat bila penghubung listriknya dimatikan, karena bahannya dibuat dari yang tidak mudah terbakar. Tetapi jika api telah menjalar hendaknya dipadamkan dengan tabung pemadam api yang berisi gas CO2 atau bubuk pemadam api.
JANGAN pernah menggunakan air bila terjadi konsleting. Pasir yang kering bisa digunakan bila tidak terdapat peralatan yang lain. INGAT bila terjadi kebakaran, panggil teman untuk memindahkan setiap orang/pasien ke tempat yang aman dan dekat dengan pintu.
Karena untuk mencegah bahaya kebakaran, maka segala serpihan yang mudah terbakar jangan berada dekat atau di dalam bagian yang mengandung listrik.
Udara harus dapat dengan mudah bertukar pada bagian peralatan tersebut sehingga tidak terjadi peningkatan panas pada bagian itu.
B. Keselamatan peralatan mekanik
Buatkanlah ruangan untuk pesawat sinar-x dan kamar gelap yang cukup besar agar tidak terjadi kecelakaan pada radiografer dan pekerja lainnya. Periksalah apakah:
1. Barang-barang perabot terletak secara aman di dinding, lantai atau atap.
2. Kunci dan gembok berfungsi dengan baik.
3. Tombol dan pembungkus peralatan terletak dengan aman pada posisinya sehingga tidak ada jari-jari pasien atau radiografer yang tersentuh atau luka akibat keadaan tersebut. Sekrup atau mur yang lepas harus diganti dengan ukuran yang sama.
4. Periksalah konus dan pembatas sinar-x, apakah tersambung dengan baik ke tabung sinar-x dan tabung sinar-x tersambung dengan baik dengan penyangganya.
C. Keselamatan radiasi
1. Periksalah karet Pb. yang digunakan untuk meyakinkan tidak adanya sinar-x yang tembus ketika melakukan pemeriksaan (terutama pada eksposi yang dekat organ/daerah sensitif). Jika karet timbal yang digunakan tidak cukup tebal, maka gunakan karet timbal yang lebih tebal sehingga tidak timbul kabut pada film hasil.
2. Apron/Pelindung Pb. Periksalah apron untuk meyakinkan bahwa tidak ada bagian yang rusak, ingat bahwa bila apron yang digunakan terdapat celah atau renggang yang kecil sekalipun maka tetap harus dilakukan perbaikan atau pemindahan letak bagian yang rusak tersebut. Lipatan dapat ditekan dan ditempel dengan lem perekat untuk menghindari terjadinya berbagai pecahan pada karet Pb. Jika bagian yang rusak ini telah diperbaiki, hendaknya diperiksa dengan menggunakan sinar-x apakah masih terdapat kebocoran radiasi.
D. Pengamanan cairan kimia
Cairan kimia untuk pemrosesan film adalah bahan yang berbahaya karena ia dapat merusak/iritasi kulit dan menyebabkan uap yang berbahaya ketika terhirup. Oleh sebab itu ventilasi yang baik pada kamar gelap adalah kebutuhan yang mendasar dan jika ingin membuat larutan kimia hendaknya dilakukan di luar ruangan kamar gelap/udara terbuka. Perlu dingatkan juga pada petugas yang mengaduk cairan/bubuk pemroses film agar berhati-hati ketika menuangkan cairan/bubuk tersebut ke dalam air karena bisa terpercik, terhirup atau menempel pada dinding ruangan dan berakibat larutan menjadi terkontaminasi.
Pakaian pelindung: sarung tangan karet, masker, apron dan kaca mata pelindung harus digunakan ketika mengaduk cairan kimia. Tangan harus selalu dicuci segera setelah bekerja dengan larutan. Jika larutan terpercik ke wajah atau mata maka harus dicuci dengan air bersih.
Penggunaan larutan penetap (fixer) harus selalu hati-hati karena terdapat kandungan perak (Ag.) yang bisa menyebabkan polusi. (C)
1. Foto Rontgen : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm
Foto yg mnggunakan smber sinar pegion dan bukan pegion, gel.suara, dan mahnet u/ diagnostik dan terapi
2. sinar X : Macam dari sinar pegion
3. Proteksi diri dari Radiasi Sinar X : Melindungi diri dari akibat pancaran radiasi sinar X
4. Radiasi : Pancaran Energi dr sumbernya, brupa : photon dlm bntuk gel.radio, sinar x ato sinar gamma
STEP2
• TEKNIK FOTO DAN KEHARUSAN DALAM RONTGEN GIGI
• TEKNIK PEMOTRETAN DALAM FOTO RONTGEN
• PENGGUNAAN FOTO RONTGEN DALAM KG
STEP 3
RONTGEN : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm.
1. FUNGSI DAN TUJUAN :
FUNGSI DAN TUJUAN : UTK MENDIAGNOSIS JAR DENTAL SKELETAL YG TDK TERLIHAT SECARA KLINIS , MENENTKAN WAKTU ERUPSI.
2. MACAM RONTGEN DALAM KG : PERI APIKAL , PANORAMIK , CHEPALO , CLOSE UP , BITE WINGS
3. ALAT : LI FILM
4. TEKNIK FOTO DAN INTERPRETASI :
5. JENIS PEMERIKSAAN RONTGEN :
DASAR : PEMERIKSAAN RONTGEN TANPA KONTRAS SEPERTI TORAKS , CRANIUM , DALAM PEMERIKSAAN RONTGEN DGN BAHAN KONTRAS SEPERTI GASTER, URINARIUM
KHUSUS : PEMERIKSAAN ARTERIOGRAFI, DIPERLUKAN ALAT KHUSUS
6. KELEBIHAN KEKURANGAN :
KELEBIHAN : BISA MELIHAT ORGAN YG TDAK TERLIHAT OLEH KASAT MATA
KEKURANGAN : MAHAL , BAHAYA BAGI IBU HAMIL
7. INDIKASI DALAM RONTGEN : LI
RADIASI SINAR X
1. DEFINISI RADIASI : Pancaran Energi dr sumbernya, brupa : photon dlm bntuk gel.radio, sinar x ato sinar gamma
2. DEFINISI SINAR X : Macam dari sinar pegion
3. SIFAT RADIASI :
4. EFEK RADIASI ( JAR GIGI , JAR TUBUH , DSK ) : KANKER , DAPAT MENYEBABKAN KERUSAKAN PADA JAR TUBUH , KERUSAKAN GEN ,
5. SIFAT SINAR X : MEMILIKI DAYA TEMBUS , MENGALAMI ETANUASI , MENIMBULKAN RADIASI SEKUNDER, MEMILIKI EFEK FOTOGRAFIS
6. EFEK SINAR X : KANKER , DAPAT MENYEBABKAN KERUSAKAN PADA JAR TUBUH , KERUSAKAN GEN , KEMANDULAN
7. PROSES TERJADINYA SINAR X : BAYU
8. SUMBER RADIASI : SINAR X
9. KEGUNAAN RADIASI DALAM KG : UNTUK MEMBUAT GAMBARAN GIGI, TULANG DAN JAR LUNAK, PADA FILM.
10. SATUAN DALAM RADIASI :
RONTGEN : (R)
GRAY ( GY )
BECQUEREL ( BQ )
CURIE
REM
11. PERATURAN2 YANG BERLAKU DALAM PROTEKSI RADIASI ( OPERATOR , PASIEN , RUANGAN ) : STERIL , PSIEN TDK BOLEH MENGGUNAKAN PERHIASAN , SELAMA PEMERIKSAAN, PASIEN TDK BOLEH BERGERAK , DAN ORG DISEKITAR PASIEN TDK BOLEH DI DEKAT TEMPAT PEMERIKSAAN .
STEP 7
RONTGEN
1. DEFINISI : Unit yg dgunakan u/ melihat anggota tubuh dlm
Foto yg mnggunakan smber sinar pegion dan bukan pegion, gel.suara, dan mahnet u/ diagnostik dan terapi
2. FUNGSI DAN TUJUAN :
1. Untuk mendeteksi lesi, dll.
2. Untuk membuktikan suatu diagnosa penyakit.
3. Untuk melihat lokasi lesi/benda asing yang terdapat pada rongga mulut.
4. Untuk menyediakan informasi yang menunjang prosedur perawatan.
5. Untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi.
6. Untuk melihat adanya karies, penyakit periodontal dan trauma.
7. Sebagai dokumentasi data rekam medis yang dapat diperlukan sewaktu waktu.
( Haring. 2000)
3.alat : Untuk
dapat menghasilkan suatu pencitraan sinar-X diperlukan beberapa instrumetasi yang baku
sebagai berikut :
1. Tabung sinar-X
Tabung sinar-X berisi filament yang juga
sebagai katoda dan berisi anoda. Filamen
terbuat dari tungsten, sedangkan anoda
terbuat dari logam anoda (Cu, Fe atau Ni).
Anoda biasanya dibuat berputar supaya
permukaannya tidak lekas rusak yang
disebabkan tumbukan elektron.
2. Trafo Tegangan Tinggi
Trafo tegangan tinggi berfungsi pelipat
tegangan rendah dari sumber menjadi
tegangan tinggi antara 30 kV sampai 100
kV. Pada trafo tegangan tinggi diberi
minyak sebagai media pendingin. Trafo
tegangan tinggi berfungsi untuk
mempercepat elektron di dalam tabung.
3. Instrumentasi kontrol
Sistem kontrol berfungsi sebagai pengatur
parameter pada pengoperasian pesawat
sinar-X.
Instrumentasi kontrol terbagi menjadi 5
modul yaitu :
a. modul Power supplay (Catu daya DC )
b. modul pengatur tegangan (kV)
c. modul pengatur arus (mA)
d. modul pengatur waktu pencitraan (S)
e. modul Kendali system
f. catu daya AC dari sumber PLN.
4.teknik foto dan interpretasi :
Jenis-jenis Foto Rontgen Gigi
Secara garis besar foto Rontgen gigi, berdasarkan teknik pemotretan dan
penempatan film, dibagi menjadi dua: foto Rontgen Intra oral dan foto Rontgen
extra oral.
1 Teknik Rontgen Intra oral
Teknik radiografi intra oral adalah pemeriksaan gigi dan jaringan sekitar
secara radiografi dan filmnya ditempatkan di dalam mulut pasien. Untuk
mendapatkan gambaran lengkap rongga mulut yang terdiri dari 32 gigi
diperlukan kurang lebih 14 sampai 19 foto. Ada tiga pemeriksaan radiografi intra
oral yaitu: pemeriksaan periapikal, interproksimal, dan oklusal. (Brocklebank.
1997)
- Teknik Rontgen Periapikal
Teknik ini digunakan untuk melihat keseluruhan mahkota serta akar gigi
dan tulang pendukungnya. Ada dua teknik pemotretan yang digunakan untuk
memperoleh foto periapikal yaitu teknik paralel dan bisektris, yang sering
digunakan di RSGM adalah teknik bisektris. Untuk menentukan gigi yang tidak ada, apakah karena telah dicabut,
impaksi atau agenese. Untuk menentukan posisi gigi yang belum erupsi terhadap
permukaan rongga mulut berguna untuk menetapkan waktu erupsi, Untuk
membandingkan ruang yang ada dengan lebar mesiodistal gigi permanen yang belum
erupsi.
- Teknik Bite Wing
Teknik ini digunakan untuk melihat mahkota gigi rahang atas dan rahang
bawah daerah anterior dan posterior sehingga dapat digunakan untuk melihat
permukan gigi yang berdekatan dan puncak tulang alveolar. Teknik
pemotretannya yaitu pasien dapat menggigit sayap dari film untuk stabilisasi film
di dalam mulut.
- Teknik Rontgen Oklusal
Teknik ini digunakan untuk melihat area yang luas baik pada rahang atas
maupun rahang bawah dalam satu film. Film yang digunakan adalah film oklusal.
Teknik pemotretannya yaitu pasien diinstruksikan untuk mengoklusikan atau
menggigit bagian dari film tersebut.
2 Teknik Rontgen Ekstra Oral
Foto Rontgen ekstra oral digunakan untuk melihat area yang luas pada
rahang dan tengkorak, film yang digunakan diletakkan di luar mulut. Foto
Rontgen ekstra oral yang paling umum dan paling sering digunakan adalah foto
Rontgen panoramik, sedangkan contoh foto Rontgen ekstra oral lainnya adalah
foto lateral, foto antero posterior, foto postero anterior, foto cephalometri,
proyeksi-Waters, proyeksi reverse-Towne, proyeksi Submentovertex.( Haring.
2000)
- Teknik Rontgen Panoramik
Foto panoramik merupakan foto Rontgen ekstra oral yang menghasilkan
gambaran yang memperlihatkan struktur facial termasuk mandibula dan maksila
beserta struktur pendukungnya. Foto Rontgen ini dapat digunakan untuk
mengevaluasi gigi impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi
geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma. Untuk menentukan keadaan gigi dan jaringan pendukungnya secara
keseluruhan dalam satu Rontgen foto, Untuk menentukan urutan erupsi gigi, dll.
- Teknik Lateral
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan sekitar lateral tulang
muka, diagnosa fraktur dan keadaan patologis tulang tengkorak dan muka.
- Teknik Postero Anterior
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma, atau
kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Foto Rontgen ini juga dapat
memberikan gambaran struktur wajah, antara lain sinus frontalis dan ethmoidalis,
fossanasalis, dan orbita.
- Teknik Antero Posterior
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat kelainan pada bagian depan
maksila dan mandibula, gambaran sinus frontalis, sinus ethmoidalis, serta tulang
hidung.
- Teknik Cephalometri
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat
trauma penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat
digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan
palatum keras. foto rontgen seluruh tengkorak kepala yang diambil dari arah samping. Rotgen ini bermanfaat untuk melihat adanya permasalahan pada tulang rahang atas dan bawah, yang mungkin menyebabkan gigi tonggos atau pun cakil. Hal ini dimaksudkan sebagai pertimbangan dilakukannya terapi pada tulang rahang atas maupun bawah.
- Proyeksi Water’s
Foto Rontgen ini digunakan untuk melihat sinus maksilaris, sinus
ethmoidalis, sinus frontalis, sinus orbita, sutura zigomatiko frontalis, dan rongga
nasal.
- Proyeksi Reverse-Towne
Foto Rontgen ini digunakan untuk pasien yang kondilusnya mengalami
perpindahan tempat dan juga dapat digunakan untuk melihat dinding postero
lateral pada maksila.
10
- Proyeksi Submentovertex
Foto ini bisa digunakan untuk melihat dasar tengkorak, posisi kondilus,
sinus sphenoidalis, lengkung mandibula, dinding lateral sinus maksila, dan arcus
zigomatikus.
Interpretasi Dasar Foto
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan interprestasi foto yaitu:
1. Identitas: nama, nomor RM, tangal dan jam pembuatan foto, tindakan selanjutnya.
2. Ketajaman sinar, apabila terlalu radiopaque (terlalu terang) atau terlalu gelap (radiolusen), maka foto harus diulang karena akan terjadi salah interprestasi.
Dalam membaca foto rontgen, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah densitas atau derajat tebalnya bayangan hitam pada film. Para radiolog menggolongkan adanya empat densitas yaitu: gas atau udara, air, lemak dan logam. Radiograf paling baik dilihat dalam ruang agak gelap dengan sinar yang
mengarah langsung ke film; semua sinar dari luar harus dihilangkan. Radiograf
harus dipelajari dengan kaca pembesar untuk mendeteksi perubahan mendetil
densitas gambar. Berbagai intensitas sumber sinar juga harus tersedia. Hal ini
dapat menggantikan film overexposed atau underexposed atau film dengan
kesalahan proses. Banyak film dapat diselamatkan dengan cara ini, termasuk
menghindari pengulangan foto dan paparan radiasi tambahan ( Goaz, 1994).
5.jenis pemeriksaan rontgen :
Macam Pemeriksaan :
1. Pemeriksaan Tanpa Kontras
Pemeriksaan ini dipakai rutin dan sebagai pendahuluan yakni pembuatan radiografi thoraks dengan proyeksi dorsoventral, ventrodorsal, dan lateral. Pemeriksaan lainnya yaitu pembuatan radilologi thoraks proyeksi oblique kanan dan kiri, dengan esofagus diisi barium, dan pemeriksaan tembus (fluoroskopi). Pemeriksaan tembus berguna untuk menilai pulsasi jantung dan gerakan diafragma. Pemeriksaan ini harus dibatasi penggunaannya karena besarnya radiasi yang dipancarkan.
2. Pemeriksaan Dengan Kontras
Kontras dimasukkan melalui pembuluh darah ke dalam jantung diikuti pembuatan serial radiografi. Pemeriksaan ini berguna untuk melihat kelainan-kelainan yang terdapat dalam jantung seperti: dinding jantung sebelah dalam, katub jantung dan pembuluh darah besar, serta gambaran sirkulasi jantung dengan paru. Pemeriksaan ini juga berguna untuk memberikan informasi keadaan jantung dan pembuluh darah sebelum dilakukan pembedahan.
6.kelebihan kekurangan :
kelebihan : bisa melihat organ yg tdak terlihat oleh kasat mata
kekurangan : mahal , bahaya bagi ibu hamil
7.indikasi dalam rontgen : dalam keadaan tertentu yg memerlukan pancabutan gigi.
disamakan dgn tujuan
RADIASI SINAR X
1. definisi radiasi : sinar X yang panjang gelombangnya range 10 sampai 0.01 nanometer.
2. definisi sinar x : macam dari sinar pegion
3. sifat radiasi :
4. efek radiasi ( jar gigi , jar tubuh , dsk )
Efek deterministik didefinisikan sebagai efek somatik yang meningkat.Efek ini berasal dari dosis radiasi yang cukup besar melebihi kebutuhan dalam radiologi diagnostik, dapat timbul segera setelah paparan atau beberapa bulan atau tahun setelah paparan. Contoh efek deterministik adalah katarak, eritema kulit,
fibrosis dan pertumbuhan dan perkembangan abnormal yang mengikuti paparan
pada uterus.
Efek stokastik didefinisikan sebagai sesuatu yang menyebabkan terjadinya
keparahan tanpa dipengaruhi oleh ambang. Efek stokastik menunjukan respon all
or none, di modifikasi dengan faktor-faktor resiko individual. Efek ini dapat
timbul setelah paparan dengan dosis yang relative rendah seperti yang mungkin
terjadi dalam radiologi diagnostik. Kanker dan efek genetik merupakan efek stokastik (White & Pharoah 2000).
5. sifat sinar x : memiliki daya tembus , mengalami etanuasi , menimbulkan radiasi sekunder, memiliki efek fotografis
6. efek sinar x : Efek yang dapat ditimbulkan adalah kematian sel2 tubuh. Pemakaian dalam jangka waktu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan terjadi mutasi pada sel yang memicu kanker. Makanya biasanya ditetapkan rontgen ideal maksimal 3 bulan sekali. Diharapkan dalam tempo 3 bulan, sel2 tubuh yang rusak akibat sinar X terdahulu sudah regenerasi dan menjadi normal seperti sedia kala.
7. proses terjadinya sinar x : Sinar-X dapat terbentuk apabila partikel bermuatan misalnya electron oleh pengaruh gaya inti atom bahan mengalami perlambatan. Sinar-X yang tidak lain adalah gelombang elektromagnetik yang terbentuk melalui proses ini disebut sinar-X bremsstrahlung. Sinar-X yang terbentuk dengan cara demikian mempunyai energi paling tinggi sama dengan energi kinetic partikel bermuatan pada waktu terjadinya perlambatan.
Andaikata mula-mula ada seberkas electron bergerak masuk kedalam bahan dengan energi kinetic sama, electron mungkin saja berinteraksi dengan atom bahan itu pada saat dean tempat yang berbeda-beda. Karena itu berkas electron selanjutnya biasanya terdiri dari electron yang memiliki energi kinetic berbeda-beda. Ketika pada suatu saat terjadi perlambatan dan menimbulkan sinar-X, sinar-X yang terjadi umumnya memiliki energi yang berbeda-beda sesuai dengan energi kinetik elektron pada saat terbentuknya sinar-X dan juga bergantung pada arah pancarannya. Berkas sinar-X yang terbentuk ada yang berenergi rendah sekali sesuai dengan energi elektron pada saat menimbulkan sinar-X itu, tetapi ada yang berenergi hampir sama dengan energi kinetik elektron pada saat elektron masuk kedalam bahan.
Dikatakan berkas sinar-X yang terbentuk melalui proses ini mempunyai spektrum energi nirfarik.
Sinar-X dapat juga terbentuk dalam proses perpindahan elektron elektron atom dari tingkat energi yang lebih tinggi menuju ke tingkat energi yang lebih rendah, misalnya dalam proses lanjutan efek fotolistrik. Sinar-X yang terbentuk dengan cara seperti ini mempunyai energi yang sama dengan selisih energi antara kedua tingkat energi yang berkaitan. Karena energi ini khas untuk setiap jenis atom, sinar yang terbentuk dalam proses ini disebut sinar-X karakteristik, kelompok sinar-X demikian mempunyai energi farik. sinar-X karakteristik yang timbul oleh berpindahnyaelektron dari suatu tingkat energi menuju ke lintasan k, disebut sinar-X garis K, sedangkan yang menuju ke lintasan l, dan seterusnya.
Sinar-X bremsstrahlung dapat dihasilkan melalui pesawat sinar-X atau pemercepat partikel. Rangkaian dasar pesawat sinar-X terlihat pada gambar di atas.pada dasarnya pesawat sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X, sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elektrode dalam tabung sinar-X, dan unit pengatur.bagian pesawat sinar-X yang menjadi sumber radiasi adalah tabung sinar-X. Didalam tabung pesawat sinar-X yang biasanya terbuat dari bahan gelas terdapat filamen yang bertindak sebagai katode dan target yang bertindak sebagai anode. Tabung pesawat sinar-X dibuat hampa udara agar elektron yang berasal dari filamen tidak terhalang oleh molekul udara dalam perjalanannya menuju ke anode. Filamen yang di panasi oleh arus listrik bertegangan rendah (If) menjadi sumber elektron. Makin besar arus filamen If, akan makin tinggi suhu filamen dan berakibat makin banyak elektron dibebaskan persatuan waktu.
Elekitron yang dibebaskan oleh filamen tertarik ke anode oleh adanya beda potensial yang besar atau tegangan tinggi antara katode dan anode yang dicatu oleh unit sumber tegangan tinggi (potensial katode beberapa puluh hingga beberapa ratus kV atau MV lebih rendah dibandingkan potensial anode), elektron ini menabrak bahan target yang umumnya bernomor atom dan bertitik cair tinggi (misalnya tungsten) dan terjadilah proses bremsstrahlung.
Khusus pada pemercepat partikel energi tinggi beberapa elektron atau partikel yang dipercepat dapat agak menyimpang dan menabrak dinding sehingga menimbulkan bremsstrahlung pada dinding. Beda potensial atau tegangan antara kedua elektrode menentukan energi maksimum sinar-X yang terbentuk, sedangkan fluks sinar-X bergantung pada jumlah elektron persatuan waktu yang sampai ke bidang anode yang terakhir ini disebut arus tabung It yang sudah barang tentu bergantung pada arus filamen It. Namun demikian dalam batas tertentu, tegangan tabung juga dapat mempengaruhi arus tabung. Arus tabung dalam sistem pesawat sinar-X biasanya hanya mempunyai tingkat besaran dalam milliampere (mA), berbeda dengan arus filamen yang besarnya dalam tingkat ampere. Spektrum energi sinar-X pada pesawat sinar-X jenis ortho terlihat pada gambar dibawah. Spektrum garis yang biasanya muncul menunjukkan adanya sinar-X karakteristik. Pesawat sinar-X yang tidak dinyalakan atau tidak diberikan tegangan tinggi tidak memancarkan sinar-X. Dari uraian diatas kita ketahui bahwa bidang target dalam tabung sinar-X itulah sumber radiasi yang sebenarnya. Bidang ini disebut bidang fokus. Pada proses bremsstrahlung sinar-X mempunyai kemungkinan dipancarkan kesegala arah. Namun demikian bagian dalam tabung atau di sekitar tabung, misalnya logam penghantar anode gelas tabung dan juga rumah tabung yang biasanya terbuat dari logam berat menyerap sebagian besar sinar-X yang dipancarkan sehingga sinar-X yang keluar dari rumah tabung, kecuali yang mengarah ke jendela tabung sudah sangat sedikit. Sinar-X yang dimanfaatkan adalah berkas yang mengarah ke jendela bagian yang tipis dari tabung. Pesawat sinar-X energi tinggi (s/d tingkat MV) biasanya lebih dikenal dengan nama pemercepat partikel. Dalam pesawat ini percepatan elektron dilaksanakan bertingkat-tingkat sehingga pada waktu mencapai target mempunyai energi sangat tinggi, misalnya ada yang sampai setinggi 20 MV atau lebih. Energi sinar-X yang dipancarkan sudah tentu juga sangat tinggi. Sinar-X yang dipancarkan dari pesawat pemercepat partikel memiliki energi yang lebih seragam dibandingkan dengan yang dipancarkan melalui pesawat sinar-X energi rendah. Sasaran pada pesawat pemercepat partikel biasanya sangat tipis, karena ketika mencapai target elektron mempunyai energi yang sama, energi sinar-X yang dipancarkan juga hampir sama. Selain itu arah berkas sinar-X hampir seluruhnya kedepan.
8. sumber radiasi :
• Menurut Asalnya
– Radiasi Alam
• Radiasi dari luar angkasa --> Cosmogenic Radionuclide
1H3, 4Be7, 11Na22, 11Na24, 6C14
• Radiasi dari dalam bumi --> Primodial Radionuclide
19K40, deret 92U238 dan 90Th232
– Radiasi Buatan
• Reaktor Nuklir --> Reaksi inti tidak aktif dengan Neutron cepat
• Industri --> Gauging, PLTN
• Kesehatan --> Pesawat Sinar – X
* Linac, Afterloading ( Zat Radioaktif )
9. kegunaan radiasi dalam kg : untuk membuat gambaran gigi, tulang dan jar lunak, pada film.
10. satuan dalam radiasi :
rontgen : (r)
gray ( gy )
becquerel ( bq )
curie
rem
11.peraturan2 yang berlaku dalam proteksi radiasi ( operator , pasien , ruangan )
TUJUAN PROTEKSI RADIASI
• Mencegah penerimaan paparan radiasi baik terhaang memungkinkdap individu maupun lingkungan dalan intensitas yang memungkinkan terjadinya bahaya radiasi.
• Mencegah meningkatnya efek somatis non stokastik dan mengurangi frekwensi peluang timbulnya efek somatik stokastik
• Agar setiap pemanfaatn radiasi benar-benar dapat dipertanggung jawabkan
1. Desain dan paparan di ruangan radiasi
a. Ukuran Ruangan Radiasi
• Ukuran minimal ruangan radiasi sinar-x adalah panjang 4 meter, lebar 3 meter, tinggi 2,8 meter.
• Ukuran tersebut tidak termasuk ruang operator dan kamar ganti pasien.
b. Tebal Dinding
• Tebal dinding suatu ruangan radiasi sinar-x sedemikian rupa sehingga penyerapan radiasinya setara dengan penyerapan radiasi dari timbal setebal 2 mm.
• Tebal dinding yang terbuat dari beton dengan rapat jenis 2,35 gr/cc adalah 15 cm.
• Tebal dinding yang terbuat dari bata dengan plester adalah 25 cm.
c. Pintu dan Jendela
• Pintu serta lobang-lobang yang ada di dinding (misal lobang stop kontak, dll) harus diberi penahan-penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal.
• Di depan pintu ruangan radiasi harus ada lampu merah yang menyala ketika meja kontrol pesawat dihidupkan.
• Tujuannya adalah :
ã Untuk membedakan ruangan yang mempunyai paparan bahaya radiasi dengan ruangan yang tidak mempunyai paparan bahaya radiasi.
ã Sebagai indikator peringatan bagi orang lain selain petugas medis untuk tidak memasuki ruangan karena ada bahaya radiasi di dalam ruangan tersebut.
ã Sebagai indikator bahwa di dalam ruangan tersebut ada pesawat rontgen sedang aktif.
ã Diharapkan ruangan pemeriksaan rontgen selalu tertutup rapat untuk mencegah bahaya paparan radiasi terhadap orang lain di sekitar ruangan pemeriksaan rontgen.
• Jendela di ruangan radiasi letaknya minimal 2 meter dari lantai luar. Bila ada jendela yang letaknya kurang dari 2 meter harus diberi penahan radiasi yang setara dengan 2 mm timbal dan jendela tersebut harus ditutup ketika penyinaran sedang berlangsung.
• Jendela pengamat di ruang operator harus diberi kaca penahan radiasi minimal setara dengan 2 mm timbal.
d. Paparan Radiasi
• Besarnya paparan radiasi yang masih dianggap aman di ruangan radiasi dan daerah sekitarnya tergantung kepada pengguna ruangan tersebut.
• Untuk ruangan yang digunakan oleh pekerja radiasi besarnya paparan 100 mR/minggu.
• Untuk ruangan yang digunakan oleh selain pekerja radiasi besarnya paparan 10 mR/minggu.
2. Perlengkapan Proteksi Radiasi
a.Pakaian Proteksi Radiasi (APRON)
Setiap ruangan radiasi disediakan pakaian proteksi radiasi dalam jumlah yang cukup dan ketebalan yang setara dengan 0,35 mm timbal.
b.Sarung tangan timbal
Setiap ruangan fluoroskopi konvensional harus disediakan sarung tangan timbal.
3. Alat monitor Radiasi
a. Film Badge
• Setiap pekerja radiasi dan/atau pekerja lainnya yang karena bidang pekerjaannya harus berada di sekitar medan radiasi diharuskan memakai film badge setiap memulai pekerjaannya setiap hari.
• Film badge dipakai pada pakaian kerja pada daerah yang diperkirakan paling banyak menerima radiasi atau pada daerah yang dianggap mewakili penerimaan dosis seluruh tubuh seperti dada bagian depan atau panggul bagian depan.
b. Survey meter
Di unit radiologi harus disediakan alat survey meter yang dapat digunakan untuk mengukur paparan radiasi di ruangan serta mengukur kebocoran alat radiasi.
4. Pesawat Radiasi
a. Kebocoran tabung
Tabung pesawat rontgen (tube) harus mampu menahan radiasi sehingga radiasi yang menembusnya tidak melebihi 100 mR per jam pada jarak 1 meter dari fokus pada tegangan maksimum.
b. Filter
Filter radiasi harus terpasang pada setiap tabung pesawat rontgen.
c. Diafragma berkas radiasi
• Diafragma berkas radiasi pada suatu pesawat harus berfungsi dengan baik.
• Ketebalan difragma minimal setara dengan 2 mm timbal.
• Posisi berkas sinar difragma harus berhimpit dengan berkas radiasi.
d. Peralatan Fluoroskopi
• Tabir flouroskopi harus mengandung gelas timbal dengan ketebalan yang setara dengan 2 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 100 KV atau 2,5 mm timbal untuk pesawat rontgen berkapasitas maksimum 150 KV.
• Karet timbal yang digantungkan pada sisi tabir flouroskopi harus mempunyai ketebalan setara dengan 0,5 timbal dengan ukuran 45 x 45 cm.
• Tabung peswat rontgen dengan tabir flouroskopi harus dihubungkan secara permanen dengan sebuah stop kontak otomatis harus dipasang untuk mencegah beroperasinya pesawat apabila pusat berkas radiasi tidak jatuh tepat di tengah-tengah tabir flouroskopi.
• Semua peralatan flouroskopi harus dilengkapi dengan tombol pengatur waktu yang memberikan peringatan dengan bunyi sesudah waktu penyinaran terlampaui. Penyinaran akan berakhir jika pengatur waktu tidak di reset dalam waktu satu menit.
5. Pemeriksaan Kesehatan
Setiap pekerja radiasi harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala sedikitnya sekali dalam setahun.
6. Kalibrasi Pesawat Rontgen
Pesawat rontgen harus dikalibrasi secara berkala terutama untuk memastikan penunjukkan angka-angkanya sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
7. Dosis Radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi
• Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi didasarkan atas rumus dosis akumulasi :
D = 5 ( N - 18 ) rem
D :Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi selama masa kerjanya
N :Usia pekerja radiasi yang bersangkutan dinyatakan dalam tahun
18:Usia minimum seseorang yang diizinkan bekerja dalam medan radiasi dinyatakan dalam tahun
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu 1 tahun ialah 5 rem.
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu 13 minggu ialah 1,25 rem . Sedangkan untuk wanita hamil 1 rem.
• Jumlah tertinggi penerimaan dosis rata-rata seorang pekerja radiasi dalam jangka waktu satu minggu adalah 0,1 rem.
8. Ekstra Fooding
Rumah sakit berkewajiban menyediakan makanan ekstra puding yang bergizi bagi pekerja radiasi untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap radiasi.
9. Prosedur Kerja di Ruangan Radiasi
1. Menghidupkan lampu merah yang berada di atas pintu masuk ruang pemeriksaan.
2. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang sedang diperiksa.
3. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua yang tidak berkepentingan berada di luar ruangan pemeriksaan , sedangkan petugas berada di ruang operator. Kecuali sedang menggunakan flouroskopi maka petugas memakai pakaian proteksi radiasi.
4. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
5. Tidak menyalakan flouroskopi apabila sedang ada pergantian kaset.
6. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
7. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
8. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
9. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas sinar langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
10. Pemeriksaan radiologi tidak boleh dilakukan tanpa permintaan dari dokter.
10. Prosedur Kerja di Ruang ICU dengan menggunakan Mobile Unit X-Ray
1. Berkas sinar langsung tidak boleh mengenai orang lain selain pasien yang sedang diperiksa.
2. Pada waktu penyinaran berlangsung, semua petugas harus berada sejauh mungkin dari pasien dan memakai pakaian proteksi radiasi.
3. Waktu pemeriksaan harus dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan.
4. Menghindarkan terjadinya pengulangan foto.
5. Apabila perlu pada pasien dipasang gonad shield.
6. Ukuran berkas sinar harus dibatasi dengan diafragma sehingga pasien tidak menerima radiasi melebihi dari yang diperlukan.
7. Apabila film atau pasien memerlukan penopang atau bantuan, sedapat mungkin gunakan penopang atau bantuan mekanik. Jika tetap diperlukan seseorang untuk membantu pasien atau memegang film selama penyinaran maka ia harus memakai pakaian proteksi radiasi dan sarung tangan timbal serta menghindari berkas sinar langsung dengan cara berdiri disamping berkas utama.
A. Keselamatan arus listrik
1. Arde listrik peralatan sinar-x
Arde dilakukan dengan menghubungkan permukaan metal/logam pada pesawat sinar-x ke tanah melalui konduktor tembaga. Konduktor ini bisa berupa:
• Satu lempeng tembaga yang ditempelkan ke permukaan metal/logam dari meja pemeriksaan, tuas penyangga tabung, tranformator dan control consoul dan menghu-bungkannya ke tanah. PERHATIKAN BETUL BAHWA LEMPENG LOGAMNYA BENAR-BENAR MENEMPEL.
• Satu konduktor bumi yang terdapat pada kabel utama dari pesawat sinar-x bergerak (mobile unit) yang terhubung pada bagian akhir dari rangkaian pesawat yang membutuhkan arde dan ujung yang lain pada konduktor bumi di dalam colokan listrik (pulg socket).
• INGAT, penggunaan kabel pe-nyambung (extention cable) atau adaptor akan meng-hambat kelancaran kerja dari konduktor bumi dan jangan digunakan, kecuali jika tidak terdapat alternatif lain. Tetapi, jika harus menggunakan kabel penyambung harap diingat ukuran dan besar kabel harus sama dengan kabel utamanya dan kedua ujung ardenya harus benar-benar tersambung dengan baik.
PERIKSALAH SECARA TERATUR KABEL DAN SAMBUNGAN PADA KEDUA UJUNG dengan kondisi seperti di bawah ini:
• Karet pembungkus kabel. Jika terdapat potongan atau kerusakan hendaknya segera diperbaiki atau diganti.
• Sambungan antara ujung kabel dan colokan listrik. Karet pembungkus kabel hendaknya terlindung di dalam kotak colokan listrik.
• Kotak colokan listrik. Jika kotak ini retak atau pecah hendaknya segera diganti.
• Ujung arde yang terdapat di dalam colokan listrik hendaknya terkait dengan baik. Setiap 6 bulan teknisi listrik atau petugas yang cakap harus mengecek keadaan ini. jika colokannya putus, maka jangan dimasukkan ke dalam soket listrik sampai ia benar-benar telah diperbaiki dan aman.
Catatan: Kerusakan dapat dicegah dengan penanganan yang cermat dan hati-hati terhadap peralatan sinar-x dan kabelnya. Jangan sampai kabel dalam keadaan tegang, kusut, menempel pada permukaan yang tajam saat digerakkan.
2. Sekering/Fuse
Peralatan listrik diperlengkapi dengan sekering sebagai alat pengaman untuk mencegah arus yang tidak sesuai pada saat melewati rangkaian. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memasang sekering yang benar nilainya.
Jika sekeringnya tidak berfungsi maka sebaiknya ditukar dengan yang lain pada nilai yang sama. Jika gagal lagi maka terdapat kerusakan pada rangkaian dan harus dicari sebabnya serta diperbaiki.
JANGAN PERNAH menaikkan nilai sekering, karena hal ini sangat bahaya dilakukan.
Beberapa model pesawat sinar-x mempunyai colokan listrik khusus, biasanya berwarna merah dan ditandai dengan “hanya sinar-x”. Hal ini jangan digunakan untuk pemakaian yang lain, karena ia colokan khusus tanpa sekering. Alat itu didisain khusus untuk menerima tegangan listrik pada saat eksposi yang amat sangat rendah, akan tetapi sangat berbahaya bila digunakan dengan tegangan listrik biasa yang tidak mempunyai peralatan pengaman khusus di dalam pesawat sinar-x nya.
3. Colokan dan soket listrik
Jika memungkinkan hendaknya semua soket listrik harus punya penghubung (switch) sehingga aliran listrik dapat diputus sebelum colokan dilepaskan.
INGAT, jangan pernah mencabut colokan dengan menarik kabelnya. Dengan cara mematikan penghu-bungnya adalah lebih baik, hal itu akan menghindari terjadinya bunga api pada colokan dan soket tetap baik.
Soket harus terhindar dari air atau cairan dan jangan ditempatkan pada tempat yang memungkinkan terjadinya percikan air atau air yang mengalir .
Jika peralatan kamar gelap –seperti tabung iluminator- membu-tuhkan penghubung listrik, maka kabelnya harus ditempatkan pada posisi yang aman dan jangan sampai tersentuh petugas yang sedang bekerja.
Jika colokan atau soket sudah berumur tua atau jika sekering penghubung tidak mengait dengan baik, maka ujung logam co-lokannya atau soketnya akan menjadi panas.
Kalau hal ini terjadi, hendaknya colokan atau soketnya harus diganti walaupun sebe-narnya disebabkan oleh ukuran kabel yang tidak sesuai dengan besar arus listrik yang mengalir.
Atau panggillah tenaga yang berkompeten tentang listrik untuk memperbaikinya.
4. Pelindung/pembungkus peralatan
Peralatan yang berisi komponen listrik harus mempunyai pelindung.
Pelindung ini untuk meyakinkan bahwa tidak ada komponen yang terkelupas dan bisa tersentuh. Bagian ini dirancang terpisah dengan bagian lain dan mempunyai pembungkus. Sehingga pembungkusnya harus selalu terlindung dengan baik dan jika rusak harus dipindahkan setelah semua peralatan listrik “diputus” , dan periksalah semua ujung peralatan, tidak ada yang menempel pada bagian lain.
Jika terdapat kerusakan pada bagian dalam dari peralatan hendaknya yang mengambil adalah teknisi listrik. Dan semua ujung peralatan harus dalam keadaan tidak ada arus listrik.
INGAT, periksa sekering apakah masih melekat ketika pelindung logam sedang diperbaiki.
5. Pembersihan peralatan
Jangan pernah menggunakan air atau lap basah untuk membersihkan peralatan listrik. Gunakanlah krim pembersih yang tidak mudah terbakar (non-flammable) seperti krim pembersih “bodi” mobil yang dengan mudah dapat dibeli di pasar.
6. Perbaikan peralatan
Perbaikan peralatan harus dilakukan oleh orang terlatih dan mem-punyai kecakapan untuk jenis pekerjaan tersebut.
7. Konsleting (electrical fire)
Peralatan listrik –karena kesalahan- bisa terjadi konsleting atau kelebihan arus listrik sehingga menjadi panas yang bisa mengakibatkan kebakaran.
Jika asap atau rasa panas terasa, peralatan yang ada harus diputus dari sambungan listriknya dengan segera.
Api yang timbul pada peralatan listrik biasanya tidak cepat merambat bila penghubung listriknya dimatikan, karena bahannya dibuat dari yang tidak mudah terbakar. Tetapi jika api telah menjalar hendaknya dipadamkan dengan tabung pemadam api yang berisi gas CO2 atau bubuk pemadam api.
JANGAN pernah menggunakan air bila terjadi konsleting. Pasir yang kering bisa digunakan bila tidak terdapat peralatan yang lain. INGAT bila terjadi kebakaran, panggil teman untuk memindahkan setiap orang/pasien ke tempat yang aman dan dekat dengan pintu.
Karena untuk mencegah bahaya kebakaran, maka segala serpihan yang mudah terbakar jangan berada dekat atau di dalam bagian yang mengandung listrik.
Udara harus dapat dengan mudah bertukar pada bagian peralatan tersebut sehingga tidak terjadi peningkatan panas pada bagian itu.
B. Keselamatan peralatan mekanik
Buatkanlah ruangan untuk pesawat sinar-x dan kamar gelap yang cukup besar agar tidak terjadi kecelakaan pada radiografer dan pekerja lainnya. Periksalah apakah:
1. Barang-barang perabot terletak secara aman di dinding, lantai atau atap.
2. Kunci dan gembok berfungsi dengan baik.
3. Tombol dan pembungkus peralatan terletak dengan aman pada posisinya sehingga tidak ada jari-jari pasien atau radiografer yang tersentuh atau luka akibat keadaan tersebut. Sekrup atau mur yang lepas harus diganti dengan ukuran yang sama.
4. Periksalah konus dan pembatas sinar-x, apakah tersambung dengan baik ke tabung sinar-x dan tabung sinar-x tersambung dengan baik dengan penyangganya.
C. Keselamatan radiasi
1. Periksalah karet Pb. yang digunakan untuk meyakinkan tidak adanya sinar-x yang tembus ketika melakukan pemeriksaan (terutama pada eksposi yang dekat organ/daerah sensitif). Jika karet timbal yang digunakan tidak cukup tebal, maka gunakan karet timbal yang lebih tebal sehingga tidak timbul kabut pada film hasil.
2. Apron/Pelindung Pb. Periksalah apron untuk meyakinkan bahwa tidak ada bagian yang rusak, ingat bahwa bila apron yang digunakan terdapat celah atau renggang yang kecil sekalipun maka tetap harus dilakukan perbaikan atau pemindahan letak bagian yang rusak tersebut. Lipatan dapat ditekan dan ditempel dengan lem perekat untuk menghindari terjadinya berbagai pecahan pada karet Pb. Jika bagian yang rusak ini telah diperbaiki, hendaknya diperiksa dengan menggunakan sinar-x apakah masih terdapat kebocoran radiasi.
D. Pengamanan cairan kimia
Cairan kimia untuk pemrosesan film adalah bahan yang berbahaya karena ia dapat merusak/iritasi kulit dan menyebabkan uap yang berbahaya ketika terhirup. Oleh sebab itu ventilasi yang baik pada kamar gelap adalah kebutuhan yang mendasar dan jika ingin membuat larutan kimia hendaknya dilakukan di luar ruangan kamar gelap/udara terbuka. Perlu dingatkan juga pada petugas yang mengaduk cairan/bubuk pemroses film agar berhati-hati ketika menuangkan cairan/bubuk tersebut ke dalam air karena bisa terpercik, terhirup atau menempel pada dinding ruangan dan berakibat larutan menjadi terkontaminasi.
Pakaian pelindung: sarung tangan karet, masker, apron dan kaca mata pelindung harus digunakan ketika mengaduk cairan kimia. Tangan harus selalu dicuci segera setelah bekerja dengan larutan. Jika larutan terpercik ke wajah atau mata maka harus dicuci dengan air bersih.
Penggunaan larutan penetap (fixer) harus selalu hati-hati karena terdapat kandungan perak (Ag.) yang bisa menyebabkan polusi. (C)
13 Juli, 2009
BLok 8,3 SteriLisasi
STEP 1
1. Mikrorganisme pathogen:
Organisme yg membawa penyakit dng ukuran 0,5-5 mikron
2. Asepsis:
Tindakan membebaskan diri infeksi
3. Sterilisasi
Tindakan membebaskan suatu bhn atau benda dr segala bentuk kehidupan
4. Disinfeksi
Mematikan mikrorganisme yg berbahaya
5. Carrier:
- Pembawa
- Orang atau binatang yang mengandung bibit penyekit tertentu tanpa menunjukkan gejala klinis yangjelas dan berpotensi sebagai sumber penularan penyakit. Status sebagai “carrier” bisa bertahan dalam individu dalam waktu yang lama dalam perjalanan penyakit tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas, (dikenal sebagai carrier sehat atau “asymptomatic carrier”)
6. Strerilitas
Tingkat steril
7. Disinfektan
Bahan yg mampu menghancurkan mikrorganisme yg berbahaya
8. Autoclave
Alat untuk mensterilkan intrumen dng panas yg lembab
9. Pemanasan kering(oven)
Suatu metode sterilsasi dng menggunakan botol yg di masukan ke dlm oven
10. Chemivlave
Metode sterilasasi dngan menggunakan uap bahan kimia
STEP 2
Sterilisasi dan disinfeksi dlm praktek KG
Sterilasasi dan disinfeksi alat kedokteran gigi
Sterilasasi dan disinfektan dlm praktek KG
Metode sterilasasi dlm KG
STEP 3
ASEPSIS
Definisi
Upaya yg dilakukan untuk mencegah msknya mikrorganisme yg kemungkinan menyebabkan infeksi
Suatu keadaan dmn tidak ada mikroranisme patogen yg hidup
Tujuan
Mengurangi bakteri,virus,parasit,jamur
Fungsi
Mencegah masuknya mikrorganisme
Tindakan
Sterilisasi dan disinfeksi
Ruang lingkup asepsis
STERILISASI
Definisi
Tindakan membebaskan suatu bhn atau benda dr segala bentuk kehidupan
Tujuan
Untuk membuat suatu obyek menjadi steril
Prinsip sterilasasi
Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap : (2)
- Pembersihan sebelum sterilisasi.
- Pembungkusan.
- Proses sterilisasi.
- Penyimpanan yang aseptik
Metode sterilisasi
-Sterilisasi panas:S.langsung dng panas lab,S. Denagn panas kering
-S.Filterasi
-S.Radiasi
-Sterilisasi dng gelombang bunyi
-S.Kebekuan
DISINFEKSI
Definisi
Mematikan mikrorganisme yg berbahaya
Tujuan
Agar mikrorganisme mati
Prinsip
LI
Metode
LI
Macam2 bahan dan kegunaanya
Alkohol,aldehid,senyawa halogen,fenol
Perbedaan antara Sterilasai & disinfeksi
Disinfeksi
-Secara kimia
-Menjadikan mikrorganime mati
Sterilasasi
-secara kimia dean fisik
-Membebaskan mikrorganisme
Akibat jika tdk melakuakan sterilasasi dan disinfeksi
-Akan terjadi sepsis
-Resiko terjadinya infeksi lbh besar
STEP 4
STEP 7
ASEPSIS
Definisi
sebagai keadaan terbebas dari mikroorganisme patogen dan terlindungi dari kontak mikroorganisme
Tujuan
untuk mengurangi resiko kontak dengan mikroorganisme patogen dan menciptakan lingkungan kerja yang aman, baik untuk pasien maupun untuk orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi.
Fungsi
Mencegah masuknya mikrorganisme
Tindakan
Teknik Asepsis terdiri dari 3 dasar yaitu:
o Mencegah masuknya mikroorganisme patogen dari luar masuk ke dalam tubuh
o Mencegah penyebaran mikroorganisme
o Upaya interupsi proses kontaminasi
Ruang lingkup asepsis
Asepsis terdiri dari asepsis medis dan asepsis bedah. Asepsis medis dimaksudkan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. Contoh tindakan: mencuci tangan, mengganti linen, menggunakan cangkir untuk obat. Obyek dinyatakan terkontaminasi jika mengandung/diduga mengandung patogen. Asepsis bedah, disebut juga tehnik steril, merupakan prosedur untuk membunuh mikroorganisme. Sterilisasi membunuh semua mikroorganisme dan spora, tehnik ini digunakan untuk tindakan invasif. Obyek terkontaminasi jika tersentuh oleh benda tidak steril. Prinsip-prinsip asepsis bedah adalah sebagai berikut:
Segala alat yang digunakan harus steril
Alat yang steril akan tidak steril jika tersentuh
Alat yang steril harus ada pada area steril
Alat yang steril akan tidak steril jika terpapar udara dalam waktu lama
Alat yang steril dapat terkontaminasi oleh alat yang tidak steril
Kulit tidak dapat disterilkan
STERILISASI
Definisi
merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk membunuh semua mikroorganisme,tmsk spora dan merupakan tingkat tertinggi dari seluruh proses pemusnahan mikoroorganisme
Tujuan
Untuk membuat suatu obyek menjadi steril
Prinsip sterilasasi
Ada 3
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
• Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.
tahapan-tahapan yang perlu dilakukan adalah:
1. Presoaking, membersihkan instrumen dari material yang menempel. Jika material tidak dapat langsung dibersihkan, letakkan instrumen pada cairan disinfektan atau deterjen namun tidak boleh terlalu lama agar tidak terjadi korosi
2. Cleaning, membersihkan instrumen dari sisa debris dan cairan tubuh pasien, dilakukan dengan 2 cara yaitu hand scrubbing dan ultrasonic cleansing. Handscrubbing pada dasarnya kontras terhadap salah satu prinsip kontrol infeksi, yaitu tidak boleh berkontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi sebisa mungkin. Handsrubbing dapat menimbulkan percikan air dan semburan udara yang dapat menimbulkan infeksi, dan dapat merusak instrumen. Hal tersebut dapat dihindari dengan menyikat instrumen di dalam air, kemudian dibilas dengan air mengalir.
3. Corrosion control and lubrication, instrumen yang disterilkan dengan dry heat, zat kimia dan gas ethylene oxide harus dibungkus terlebih dahulu. Keadaan instrumen yang kering dapat mengurangi kemungkinan korosi dan rusaknya pembungkus instrumen.
4. Packaging, dilakukan terutama agar instrumen tetap terlindungi pasca-sterilisasi
5. Sterilization, dan
6. Sterilization monitoring, dapat dilakukan dengan indikator kimia (perubahan warna) dan indikator biologis (tes spora). Indikator kimia hanya mengetahui bahwa benda telah terekspos panas, uap maupun zat kimia, tetapi tidak dapat menganalisa adanya pemusnahan bakteri dan spora.
Metode sterilisasi
o Perebusan adalah metode yang paling umum digunakan dalam sterilisasi instrumen. Spora musnah dengan perebusan dalam air mendidih selama 5 menit. Penambahan sodium bikarbonat menambah efektifitas perebusan, namun dapat menimbulkan deposit material pada instrumen dan pengikisan pada insturmen yang terbuat alumunium. Instrumen tajam akan tumpul dengan perebusan berkali-kali. Perebusan juga dapat dilakukan terhadap sarung tangan karet, kateter dan syringe. Perebusan dilakukan sekurang-kurangnya 15 menit.
o Uap jenuh dengan tekanan (saturated steam under pressure) merupakan metode yang direkomendasikan. Autoclave merupakan salah satu alat yang menghasilkan uap jenuh yang berperan dalam proses sterilisasi. Sterilisasi dilakukan selama 20-30 menit pada suhu 121 C (250 F) dengan tekanan 15-30 psi (pounds per square inch) setelah mencapai kondisi yang steril. Spora dapat dimusnahkan pada suhu 273 F dalam waktu 2 menit. Sterilisasi dengan cara ini dapat menimbulkan karat pada instrumen. Instrumen lebih baik dibungkus dalam keadaan kering, bebas lemak dan kotoran sebelum disterilisasi dengan alat ini. Jika alat akan disimpan, instrumen harus dibungkus dengan material pembungkus yang sesuai agar kondisi steril selalu terjaga. Setelah selesai, alat dikeluarkan dari sterilisator dan dikeringkan untuk mencegah sisa kelembaban saat penyimpanan.
o Sterilisasi dengan uap panas dan bahan kimia, menghasilkan uap tidak jenuh pada suhu 132 C (270 F) dengan mencampur bahan kimia dengan air dalam jumlah sangat sedikit selama 20 sampai 30 menit. Sterilisasi jenis ini tidak menimbulkan korosi/karat pada instrumen yang mudah berkarat. Beberapa jenis sterilisasi ini menghasilkan gas yang berbahaya, sehingga diperlukan ventilasi yang memadai. Sisa zat kimia dari sterilsator diklasifikasikan sebagai hazardous waste (limbah berbahaya).
o Gas ethylene oxide (EO) merupakan salah satu metode sterilisasi terhadap benda yang mudah terpengaruh panas dan kelembaban. EO mempunyai sifat toksik, mudah terbakar, dan bisa meledak, sehingga harus digunakan dengan hati-hati. Benda yang telah disterilkan dengan EO harus diangin-anginkan.
o Dry heat sterilisator, dapat digunakan terhadap bubuk, bur, tang, dan instrumen tajam. Sterilsasi ini tidak menimbulkan korosi. Kemasan bahan tidak boleh menghalangi penetrasi panas.
o Radiasi, dapat dilakukan dengan sinar infra merah, diberikan terhadap materi yang tidak dapat disterilkan dengan panas atau zat kimia. Energi radiasi ini dapat membunuh mikroorganisme
o Sterilisasi kimia, dapat dipilih pada kondisi tertentu, atau terhadap benda yang tidak tahan panas. Sterilisasi kimia terkadang tidak dapat membunuh spora dan virus walau terekspos dalam waktu yang lama. Permukaannya benda yang akan disterilkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Sterlisasi kimia atau disinfektan ini harus berkontak pada waktu tertentu (contact time) untuk mencapai sterilisasi yang baik.
(1)Sterilisasi dengan cara rebus
Mensterikan peralatan dengan cara merebus didalam air sampai mendidih (1000C) dan ditunggu antara 15 sampai 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan karet.
(2)Sterilisasi dengan cara stoom
Mensterikan peralatan dengan uap panas didalam autoclave dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat-obatan dan lain-lain.
(3)Sterilisasi dengan cara panas kering
Mensterikan peralatan dengan oven dengan uap panas tinggi. Misalnya peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca dan obat tertentu.
(4)Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan kimia
Mensterikan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kene panas. Misalnya sarung tangan, kateter, dan lain-lain.
Penyimpanan dari alat-alat yang steril
Setelah sterilisasi, instrumen harus tetap steril hingga saat dipakai. Penyimpanan yang baik sama penting dengan proses sterilisasi itu sendiri, karena penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan instrumen tersebut tidak steril lagi. Lamanya sterilitas tergantung dari tempat dimana instrumen itu disimpan dan bahan yang dipakai untuk membungkus. Daerah yang tertutup dan terlindung dengan aliran udara yang minimal seperti pada lemari atau laci yang dapat dengan mudah didesinfeksi. Pembungkus instrumen hanya boleh dibuka segera sebelum digunakan, apabila dalam waktu 1 bulan tidak digunakan harus disterilkan ulang.
Klasifikasi dental instrument berdasarkan tingkat dekontaminasinya:
1. Critical, material yang berpenetrasi ke dalam kulit atau membran mukosa, seperti jarum, skalpel, explorer, instrumen bedah, dll. Instrumen ini membutuhkan sterilisasi.
2. Semicritical, material yang menyentuh membrana mukosa tetapi tidak menembus daerah tubuh yang lebih dalam, seperti amalgam kondensor, handpiece, dll. Instrumen ini membutuhkan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi.
3. Noncritical, meliputi material yang tidak menyentuh membrana mukosa, seperti artikulator, lampu spirtus, dll. Instumen ini hanya memerlukan disinfeksi sedang.
DISINFEKSI
Definisi
- Disinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalan membunuh mikroorganisme patogen
- Penggunaan germicidal chemical agent (zat-zat kimia germisid) untuk merusak atau membinasakan infektifitas potensial dari suatu benda/material.
Tujuan
Agar mikrorganisme mati
Tujuan Desinfeksi adalah membunuh partikel virus agen penyakit yang berada diluar tubuh unggas, ‘menempel’ di media/peralatan kandang, alat angkut, kotoran, tangan kaki, pakaian petugas, termasuk kemungkinan adanya partikel di media udara, dll.
Syarat disinfektan yang baik adalah:
a. Spektrum luas
b. Cepat bekerja
c. Tidak mudah terpengaruh, misalnya terhadap adanya material organik, detergen, dan zat kimia lainnya
d. Tidak toksik
e. Tidak mempengaruhi permukaan bahan yang disterilkan
f. Mempunyai efek residual, terus bekerja walaupun sudah tidak bersentuhan dengan disinfektan tersebut.
g. Stabil, tidak berbau dan tidak menyebabkan perubahan warna
h. Mudah digunakan
i. Ekonomis
Macam2 bahan dan kegunaanya
Macam-macam larutan disinfektan :
• Chlorine. Sodium Hipochlorite dengan konsentrasi 0,05-0,5 % dengan waktu kontak 10 menit pada suhu 20 C. Larutan ini mempunyai sifat tidak stabil, sehingga penyimpanan harus dilakukan dengan ketat. Chlorine dapat membahayakan jika terkena kulit, mata dan membran mukosa. Selain itu juga dapat menimbulkan karat pada logam dan baunya tidak enak.
• Glutardehid, konsentrasi 2-3,2% dengan waktu kontak 10-30 menit pada suhu 20 C dapat digunakan sebagai disinfektan, dapat membahayakan jika terkena kulit, mata dan membran mukosa.
• Iodophor, merupakan agen germisida dengan kandungan iodinnya. Bersifat kosoif, mengiritasi mata, kulit dan mukosa dan baunya tidak enak. Iodophor yang sekarang banyak dikenal adalah povidone iodine (betadine, septadine, dll).
• Mercuric bichloride, baik untuk benda yang terbuat dari karet, tetapi mempunyai efek destruktif terhadap logam.
• Zephiran Chloride (benzalkonium chloride) merupakan disinfektan dan antiseptik yang baik, tetapi lemah terhadap spora.
• Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
merupakan agen germisida yang handal dengan konsentrasi optimal 70%. Zat ini mudah menguap, sehingga harus disimpan dalam botol yang tertutup. Efektif terhadap bakteri gram (+) dan gram (-), namun kadang-kadang menimbulkan iritasi atau alergi terhadap kulit operator.
• Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat.
• Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty.Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
• Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
• Senyawa halogen
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
• Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
• Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).
Perbedaan antara Sterilasai & disinfeksi
Disinfeksi
- potensial dari benda/material yang dirusak/dibinasakan dengan menggunakan germicidal egents.
-sifatnya melemahkan atau mengurangi patogen,tidak dampai spora.
Sterilisasi
- suatu benda dibebaskan dari semua organisme secara kimiawi atau secara fisika
- mrpkn tingkat tertinggi dalam menghilangkan mikroorganisme patogen, Menjadikan mikrorganime mati,,sampai sporanya.
Akibat jika tdk melakukan sterilasasi dan disinfeksi
-Akan terjadi sepsis
-Resiko terjadinya infeksi lbh besar karena peluang kontak dengan mikroorganisme semakin lebar.
1. Mikrorganisme pathogen:
Organisme yg membawa penyakit dng ukuran 0,5-5 mikron
2. Asepsis:
Tindakan membebaskan diri infeksi
3. Sterilisasi
Tindakan membebaskan suatu bhn atau benda dr segala bentuk kehidupan
4. Disinfeksi
Mematikan mikrorganisme yg berbahaya
5. Carrier:
- Pembawa
- Orang atau binatang yang mengandung bibit penyekit tertentu tanpa menunjukkan gejala klinis yangjelas dan berpotensi sebagai sumber penularan penyakit. Status sebagai “carrier” bisa bertahan dalam individu dalam waktu yang lama dalam perjalanan penyakit tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas, (dikenal sebagai carrier sehat atau “asymptomatic carrier”)
6. Strerilitas
Tingkat steril
7. Disinfektan
Bahan yg mampu menghancurkan mikrorganisme yg berbahaya
8. Autoclave
Alat untuk mensterilkan intrumen dng panas yg lembab
9. Pemanasan kering(oven)
Suatu metode sterilsasi dng menggunakan botol yg di masukan ke dlm oven
10. Chemivlave
Metode sterilasasi dngan menggunakan uap bahan kimia
STEP 2
Sterilisasi dan disinfeksi dlm praktek KG
Sterilasasi dan disinfeksi alat kedokteran gigi
Sterilasasi dan disinfektan dlm praktek KG
Metode sterilasasi dlm KG
STEP 3
ASEPSIS
Definisi
Upaya yg dilakukan untuk mencegah msknya mikrorganisme yg kemungkinan menyebabkan infeksi
Suatu keadaan dmn tidak ada mikroranisme patogen yg hidup
Tujuan
Mengurangi bakteri,virus,parasit,jamur
Fungsi
Mencegah masuknya mikrorganisme
Tindakan
Sterilisasi dan disinfeksi
Ruang lingkup asepsis
STERILISASI
Definisi
Tindakan membebaskan suatu bhn atau benda dr segala bentuk kehidupan
Tujuan
Untuk membuat suatu obyek menjadi steril
Prinsip sterilasasi
Sterilisasi dilakukan dalam 4 tahap : (2)
- Pembersihan sebelum sterilisasi.
- Pembungkusan.
- Proses sterilisasi.
- Penyimpanan yang aseptik
Metode sterilisasi
-Sterilisasi panas:S.langsung dng panas lab,S. Denagn panas kering
-S.Filterasi
-S.Radiasi
-Sterilisasi dng gelombang bunyi
-S.Kebekuan
DISINFEKSI
Definisi
Mematikan mikrorganisme yg berbahaya
Tujuan
Agar mikrorganisme mati
Prinsip
LI
Metode
LI
Macam2 bahan dan kegunaanya
Alkohol,aldehid,senyawa halogen,fenol
Perbedaan antara Sterilasai & disinfeksi
Disinfeksi
-Secara kimia
-Menjadikan mikrorganime mati
Sterilasasi
-secara kimia dean fisik
-Membebaskan mikrorganisme
Akibat jika tdk melakuakan sterilasasi dan disinfeksi
-Akan terjadi sepsis
-Resiko terjadinya infeksi lbh besar
STEP 4
STEP 7
ASEPSIS
Definisi
sebagai keadaan terbebas dari mikroorganisme patogen dan terlindungi dari kontak mikroorganisme
Tujuan
untuk mengurangi resiko kontak dengan mikroorganisme patogen dan menciptakan lingkungan kerja yang aman, baik untuk pasien maupun untuk orang-orang yang bekerja dalam bidang kedokteran gigi.
Fungsi
Mencegah masuknya mikrorganisme
Tindakan
Teknik Asepsis terdiri dari 3 dasar yaitu:
o Mencegah masuknya mikroorganisme patogen dari luar masuk ke dalam tubuh
o Mencegah penyebaran mikroorganisme
o Upaya interupsi proses kontaminasi
Ruang lingkup asepsis
Asepsis terdiri dari asepsis medis dan asepsis bedah. Asepsis medis dimaksudkan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. Contoh tindakan: mencuci tangan, mengganti linen, menggunakan cangkir untuk obat. Obyek dinyatakan terkontaminasi jika mengandung/diduga mengandung patogen. Asepsis bedah, disebut juga tehnik steril, merupakan prosedur untuk membunuh mikroorganisme. Sterilisasi membunuh semua mikroorganisme dan spora, tehnik ini digunakan untuk tindakan invasif. Obyek terkontaminasi jika tersentuh oleh benda tidak steril. Prinsip-prinsip asepsis bedah adalah sebagai berikut:
Segala alat yang digunakan harus steril
Alat yang steril akan tidak steril jika tersentuh
Alat yang steril harus ada pada area steril
Alat yang steril akan tidak steril jika terpapar udara dalam waktu lama
Alat yang steril dapat terkontaminasi oleh alat yang tidak steril
Kulit tidak dapat disterilkan
STERILISASI
Definisi
merupakan sebuah proses yang ditujukan untuk membunuh semua mikroorganisme,tmsk spora dan merupakan tingkat tertinggi dari seluruh proses pemusnahan mikoroorganisme
Tujuan
Untuk membuat suatu obyek menjadi steril
Prinsip sterilasasi
Ada 3
1. Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2. Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
• Pemanasan
a. Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
b. Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
c. Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
d. Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
3. Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol.
tahapan-tahapan yang perlu dilakukan adalah:
1. Presoaking, membersihkan instrumen dari material yang menempel. Jika material tidak dapat langsung dibersihkan, letakkan instrumen pada cairan disinfektan atau deterjen namun tidak boleh terlalu lama agar tidak terjadi korosi
2. Cleaning, membersihkan instrumen dari sisa debris dan cairan tubuh pasien, dilakukan dengan 2 cara yaitu hand scrubbing dan ultrasonic cleansing. Handscrubbing pada dasarnya kontras terhadap salah satu prinsip kontrol infeksi, yaitu tidak boleh berkontak langsung dengan permukaan yang terkontaminasi sebisa mungkin. Handsrubbing dapat menimbulkan percikan air dan semburan udara yang dapat menimbulkan infeksi, dan dapat merusak instrumen. Hal tersebut dapat dihindari dengan menyikat instrumen di dalam air, kemudian dibilas dengan air mengalir.
3. Corrosion control and lubrication, instrumen yang disterilkan dengan dry heat, zat kimia dan gas ethylene oxide harus dibungkus terlebih dahulu. Keadaan instrumen yang kering dapat mengurangi kemungkinan korosi dan rusaknya pembungkus instrumen.
4. Packaging, dilakukan terutama agar instrumen tetap terlindungi pasca-sterilisasi
5. Sterilization, dan
6. Sterilization monitoring, dapat dilakukan dengan indikator kimia (perubahan warna) dan indikator biologis (tes spora). Indikator kimia hanya mengetahui bahwa benda telah terekspos panas, uap maupun zat kimia, tetapi tidak dapat menganalisa adanya pemusnahan bakteri dan spora.
Metode sterilisasi
o Perebusan adalah metode yang paling umum digunakan dalam sterilisasi instrumen. Spora musnah dengan perebusan dalam air mendidih selama 5 menit. Penambahan sodium bikarbonat menambah efektifitas perebusan, namun dapat menimbulkan deposit material pada instrumen dan pengikisan pada insturmen yang terbuat alumunium. Instrumen tajam akan tumpul dengan perebusan berkali-kali. Perebusan juga dapat dilakukan terhadap sarung tangan karet, kateter dan syringe. Perebusan dilakukan sekurang-kurangnya 15 menit.
o Uap jenuh dengan tekanan (saturated steam under pressure) merupakan metode yang direkomendasikan. Autoclave merupakan salah satu alat yang menghasilkan uap jenuh yang berperan dalam proses sterilisasi. Sterilisasi dilakukan selama 20-30 menit pada suhu 121 C (250 F) dengan tekanan 15-30 psi (pounds per square inch) setelah mencapai kondisi yang steril. Spora dapat dimusnahkan pada suhu 273 F dalam waktu 2 menit. Sterilisasi dengan cara ini dapat menimbulkan karat pada instrumen. Instrumen lebih baik dibungkus dalam keadaan kering, bebas lemak dan kotoran sebelum disterilisasi dengan alat ini. Jika alat akan disimpan, instrumen harus dibungkus dengan material pembungkus yang sesuai agar kondisi steril selalu terjaga. Setelah selesai, alat dikeluarkan dari sterilisator dan dikeringkan untuk mencegah sisa kelembaban saat penyimpanan.
o Sterilisasi dengan uap panas dan bahan kimia, menghasilkan uap tidak jenuh pada suhu 132 C (270 F) dengan mencampur bahan kimia dengan air dalam jumlah sangat sedikit selama 20 sampai 30 menit. Sterilisasi jenis ini tidak menimbulkan korosi/karat pada instrumen yang mudah berkarat. Beberapa jenis sterilisasi ini menghasilkan gas yang berbahaya, sehingga diperlukan ventilasi yang memadai. Sisa zat kimia dari sterilsator diklasifikasikan sebagai hazardous waste (limbah berbahaya).
o Gas ethylene oxide (EO) merupakan salah satu metode sterilisasi terhadap benda yang mudah terpengaruh panas dan kelembaban. EO mempunyai sifat toksik, mudah terbakar, dan bisa meledak, sehingga harus digunakan dengan hati-hati. Benda yang telah disterilkan dengan EO harus diangin-anginkan.
o Dry heat sterilisator, dapat digunakan terhadap bubuk, bur, tang, dan instrumen tajam. Sterilsasi ini tidak menimbulkan korosi. Kemasan bahan tidak boleh menghalangi penetrasi panas.
o Radiasi, dapat dilakukan dengan sinar infra merah, diberikan terhadap materi yang tidak dapat disterilkan dengan panas atau zat kimia. Energi radiasi ini dapat membunuh mikroorganisme
o Sterilisasi kimia, dapat dipilih pada kondisi tertentu, atau terhadap benda yang tidak tahan panas. Sterilisasi kimia terkadang tidak dapat membunuh spora dan virus walau terekspos dalam waktu yang lama. Permukaannya benda yang akan disterilkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Sterlisasi kimia atau disinfektan ini harus berkontak pada waktu tertentu (contact time) untuk mencapai sterilisasi yang baik.
(1)Sterilisasi dengan cara rebus
Mensterikan peralatan dengan cara merebus didalam air sampai mendidih (1000C) dan ditunggu antara 15 sampai 20 menit. Misalnya peralatan dari logam, kaca dan karet.
(2)Sterilisasi dengan cara stoom
Mensterikan peralatan dengan uap panas didalam autoclave dengan waktu, suhu dan tekanan tertentu. Misalnya alat tenun, obat-obatan dan lain-lain.
(3)Sterilisasi dengan cara panas kering
Mensterikan peralatan dengan oven dengan uap panas tinggi. Misalnya peralatan logam yang tajam, peralatan dari kaca dan obat tertentu.
(4)Sterilisasi dengan cara menggunakan bahan kimia
Mensterikan peralatan dengan menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, khususnya untuk peralatan yang cepat rusak bila kene panas. Misalnya sarung tangan, kateter, dan lain-lain.
Penyimpanan dari alat-alat yang steril
Setelah sterilisasi, instrumen harus tetap steril hingga saat dipakai. Penyimpanan yang baik sama penting dengan proses sterilisasi itu sendiri, karena penyimpanan yang kurang baik akan menyebabkan instrumen tersebut tidak steril lagi. Lamanya sterilitas tergantung dari tempat dimana instrumen itu disimpan dan bahan yang dipakai untuk membungkus. Daerah yang tertutup dan terlindung dengan aliran udara yang minimal seperti pada lemari atau laci yang dapat dengan mudah didesinfeksi. Pembungkus instrumen hanya boleh dibuka segera sebelum digunakan, apabila dalam waktu 1 bulan tidak digunakan harus disterilkan ulang.
Klasifikasi dental instrument berdasarkan tingkat dekontaminasinya:
1. Critical, material yang berpenetrasi ke dalam kulit atau membran mukosa, seperti jarum, skalpel, explorer, instrumen bedah, dll. Instrumen ini membutuhkan sterilisasi.
2. Semicritical, material yang menyentuh membrana mukosa tetapi tidak menembus daerah tubuh yang lebih dalam, seperti amalgam kondensor, handpiece, dll. Instrumen ini membutuhkan sterilisasi atau disinfeksi tingkat tinggi.
3. Noncritical, meliputi material yang tidak menyentuh membrana mukosa, seperti artikulator, lampu spirtus, dll. Instumen ini hanya memerlukan disinfeksi sedang.
DISINFEKSI
Definisi
- Disinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalan membunuh mikroorganisme patogen
- Penggunaan germicidal chemical agent (zat-zat kimia germisid) untuk merusak atau membinasakan infektifitas potensial dari suatu benda/material.
Tujuan
Agar mikrorganisme mati
Tujuan Desinfeksi adalah membunuh partikel virus agen penyakit yang berada diluar tubuh unggas, ‘menempel’ di media/peralatan kandang, alat angkut, kotoran, tangan kaki, pakaian petugas, termasuk kemungkinan adanya partikel di media udara, dll.
Syarat disinfektan yang baik adalah:
a. Spektrum luas
b. Cepat bekerja
c. Tidak mudah terpengaruh, misalnya terhadap adanya material organik, detergen, dan zat kimia lainnya
d. Tidak toksik
e. Tidak mempengaruhi permukaan bahan yang disterilkan
f. Mempunyai efek residual, terus bekerja walaupun sudah tidak bersentuhan dengan disinfektan tersebut.
g. Stabil, tidak berbau dan tidak menyebabkan perubahan warna
h. Mudah digunakan
i. Ekonomis
Macam2 bahan dan kegunaanya
Macam-macam larutan disinfektan :
• Chlorine. Sodium Hipochlorite dengan konsentrasi 0,05-0,5 % dengan waktu kontak 10 menit pada suhu 20 C. Larutan ini mempunyai sifat tidak stabil, sehingga penyimpanan harus dilakukan dengan ketat. Chlorine dapat membahayakan jika terkena kulit, mata dan membran mukosa. Selain itu juga dapat menimbulkan karat pada logam dan baunya tidak enak.
• Glutardehid, konsentrasi 2-3,2% dengan waktu kontak 10-30 menit pada suhu 20 C dapat digunakan sebagai disinfektan, dapat membahayakan jika terkena kulit, mata dan membran mukosa.
• Iodophor, merupakan agen germisida dengan kandungan iodinnya. Bersifat kosoif, mengiritasi mata, kulit dan mukosa dan baunya tidak enak. Iodophor yang sekarang banyak dikenal adalah povidone iodine (betadine, septadine, dll).
• Mercuric bichloride, baik untuk benda yang terbuat dari karet, tetapi mempunyai efek destruktif terhadap logam.
• Zephiran Chloride (benzalkonium chloride) merupakan disinfektan dan antiseptik yang baik, tetapi lemah terhadap spora.
• Alkohol
Etil alkohol atau propil alkohol pada air digunakan untuk mendesinfeksi kulit. Alkohol yang dicampur dengan aldehid digunakan dalam bidang kedokteran gigi unguk mendesinfeksi permukaan, namun ADA tidak menganjurkkan pemakaian alkohol untuk mendesinfeksi permukaan oleh karena cepat menguap tanpa meninggalkan efek sisa.
merupakan agen germisida yang handal dengan konsentrasi optimal 70%. Zat ini mudah menguap, sehingga harus disimpan dalam botol yang tertutup. Efektif terhadap bakteri gram (+) dan gram (-), namun kadang-kadang menimbulkan iritasi atau alergi terhadap kulit operator.
• Aldehid
Glutaraldehid merupakan salah satu desinfektan yang populer pada kedokteran gigi, baik tunggal maupun dalam bentuk kombinasi. Aldehid merupakan desinfektan yang kuat.
• Glutaraldehid 2% dapat dipakai untuk mendesinfeksi alat-alat yang tidak dapat disterilkan, diulas dengan kasa steril kemudian diulas kembali dengan kasa steril yang dibasahi dengan akuades, karena glutaraldehid yang tersisa pada instrumen dapat mengiritasi kulit/mukosa, operator harus memakai masker, kacamata pelindung dan sarung tangan heavy duty.Larutan glutaraldehid 2% efektif terhadap bakteri vegetatif seperti M. tuberculosis, fungi, dan virus akan mati dalam waktu 10-20 menit, sedang spora baru alan mati setelah 10 jam.
• Biguanid
Klorheksidin merupakan contoh dari biguanid yang digunakan secara luas dalam bidang kedokteran gigi sebagai antiseptik dan kontrok plak, misalnya 0,4% larutan pada detergen digunakan pada surgical scrub (Hibiscrub), 0,2% klorheksidin glukonat pada larutan air digunakan sebagai bahan antiplak (Corsodyl) dan pada konsentrasi lebih tinggi 2% digunakan sebagai desinfeksi geligi tiruan. Zat ini sangat aktif terhadap bakteri Gram(+) maupun Gram(-). Efektivitasnya pada rongga mulut terutama disebabkan oleh absorpsinya pada hidroksiapatit dan salivary mucus.
• Senyawa halogen
Hipoklorit dan povidon-iodin adalah zat oksidasi dan melepaskan ion halide. Walaupun murah dan efektif, zat ini dapat menyebabkan karat pada logam dan cepat diinaktifkan oleh bahan organik (misalnya Chloros, Domestos, dan Betadine).
• Fenol
Larutan jernih, tidak mengiritasi kulit dan dapat digunakan untuk membersihkan alat yang terkontaminasi oleh karena tidak dapat dirusak oleh zat organik. Zat ini bersifat virusidal dan sporosidal yang lemah. Namun karena sebagian besar bakteri dapat dibunuh oleh zat ini, banyak digunakan di rumah sakit dan laboratorium.
• Klorsilenol
Klorsilenol merupakan larutan yang tidak mengiritasi dan banyak digunakan sebagai antiseptik, aktifitasnya rendah terhadap banyak bakteri dan penggunaannya terbatas sebagai desinfektan (misalnya Dettol).
Perbedaan antara Sterilasai & disinfeksi
Disinfeksi
- potensial dari benda/material yang dirusak/dibinasakan dengan menggunakan germicidal egents.
-sifatnya melemahkan atau mengurangi patogen,tidak dampai spora.
Sterilisasi
- suatu benda dibebaskan dari semua organisme secara kimiawi atau secara fisika
- mrpkn tingkat tertinggi dalam menghilangkan mikroorganisme patogen, Menjadikan mikrorganime mati,,sampai sporanya.
Akibat jika tdk melakukan sterilasasi dan disinfeksi
-Akan terjadi sepsis
-Resiko terjadinya infeksi lbh besar karena peluang kontak dengan mikroorganisme semakin lebar.
05 Juli, 2009
blok 8,2 peresepan
SGD I
BLOK VIII LBM 2
STEP I
1. Obat : sediaan atau paduan2 yg siap digunakan utntuk menyelidiki scr fisio dan pato dlm rangka penetapan diagnose pncegahan, pnyumbahan, pmulihan dan peningktan kesehatan
2. Resep obat : permintaan tertulis dr dokter kepada apoteker untuk mneyediakan dan mneyerahkan obat bagi penderita sesuai UU yang berlaku
3. Resep dokter : suatu pesan dr professional kesehatan kpd apoteker / terapis lain untuk memberikan terapi pada pasien
4. Dosis : suatu batas max yg masih aman u/ digunakan pasien ; jumlah/ kadar
5. Resisten : obat tidak dapat bekerja karena meminum tidak sesuai dengan aturan dosis ; tahan
6. Anamnesis : suatu cara yang dilakukan untuk menggali informasi dari pasien mengenai penyakitnya
STEP II
1. Obat dan aturan dosis yang tepat
2. Obat dan cara pemakainnya
3. Resistensi terhadap obat
4. Obat dan aturan dosis yang tepat agar tidak terjadi resistensi
5. PENGARUH DOSIS OBAT TERHADAP RESISTENSI
STEP III & VII
OBAT
1. Definisi
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosa penyakit / gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu
( farmakologi FK UI ed.5 )
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005)
Suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan , menyembuhkan penyakit atau gejala, luka atau kelainan dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan ataua bagian tubuh manusia
Zat kimia yang mempengaruhi proses hidup yaitu metabolisme parasit penyebab penyakit dan metabolisme penderita ( farmakologi dan terapi FK UI ed.4 )
2. Fungsi
Secara umum :
Penetapan diagnose
Untuk pencegahan penyakit
Menyembuhkan penyakit
Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
Peningkatan kesehatan
Mengurangi rasa sakit
Menurut golongannya :
Remedia cardinale
Remidia adjuvantia
Remedia corrigens
Remedia constituen
3. Macam
Menurut sumbernya ( tumbuhan, hewan, mineral, cara pengolahannya )
Menurut BSO ( padat, setengah padat , cair )
Menurut golongan obatnya ( bebas, keras, bebas terbatas dan narkotika )
Menurut produksinya ( generic, paten, obat jadi, obat standart, asli, obat menurut komposisi dokter sendiri )
Menurut pengaruh dalam tubuh ( setempat dan seluruh system tubuh )
A. Bentuk sediaan ( cair, setengah padat, padat )
I. Cair
Obat luar
a. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
b. Mixtura
Adalah campuran homogeny cairan dengan cairan
Syarat mixture :
1. Harus homogeny
2. Tidak boleh ada endapan
3. Cairan yang satu dengan yang lain tercampur secara molekuler
c. Mixture agitanda
Obat cair yangmengadung bahan padat yang tudak larut dalam vehikulum, sehingga sebagian bahan obat berada berupa endapan.
d. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut tapi terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
e. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi/emulgator.
Obat suntik
a. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
Obat minum
a. Syrupus
Adalah bentuk sediaan cair yang mengandung saccarosa atau gula 40-60%. Sedangkan elixir mempunyai kandingan alcohol 8%.
Obat tetes
a. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tetes mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
II. Setengah padat
Encer / cairan kental
a. Linimentum
Adalah bentuk sediaan kental atau cair yang dioleskan pada kulit.
Keuntungan linimentum bila dibandingkan dengan unguentum :
1. Lebih mudah dicuci dari kulit, sehingga merupakan bentuk sediaan yang baik bila diberikan pada bagian kulit yang berambut, dan kulit muka serta kulit bayi yang halus
2. Penetrasi sediaan dari linimentum lebih baik dari sediaan unguentum
Setengah padat
a. Unguentum ( salep )
Sediaan setengah padat untuk digunakan sebagai obat luar, mudah dioleskan pada kulit tanpa kekerasan.
Konsistensinya seperti mentega
Dikelompokkan sebgai berikut :
1. Salep epidermis
2. Salep mukosa
3. Salep endodermik
4. Cream
5. jelly
b. Cremos
Merupakan suatu variasi dari salep dan juga disebut dngan cream.
Cream mengadung air yang memberikan rasa sejuk pada kulit
c. Pasta
Adalah obat luar yang digunakan untuk praktek dermatologi
Konsistensinya lebih kenyal dari unguentum
Lebih padat
a. Sapo / sabun
Didapat dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi
Konsistensi sapo tergantung pada basa yang dipakai untuk proses penyabunan : KOH menghasilkan sabun lunak dan NaOH menghasilkan sabun keras
Penggunaan sabun :
1. Sabun kalinus / sabun hijau
- Masih mengadung glycerin didalamnya
- Digunakan sebagai detergen untuk membersihkan kulit pada saat persiapan operasi dan kulit yang berambut pada kondisi dermatologis
2. Sapo medicates / sabun obat
- Tidak ada glycerin di dalamnya
III. padat
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar dan bentuk tidak terbagi.(talk)
b. Pulveres / puyer
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan
3) Tablet Trikurat tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d. Pilulae ( PIL)
f. Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
d. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.
Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan
e. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Enema : konsistensi keras sedangkan supositoria sendiri lunak,berbentuk peluru.
B. Golongan obat menurut UU ( obat bebas, bebas terbatas, obat keras, obat narkotika )
1) Obat Bebas
merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2) Obat Bebas Terbatas
merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3) Obat Keras
merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung.
Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.
4) Obat Narkotika
merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.
Dari bahan bakunya ( obat tradisional dan modern )
a. Obat tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
b. Obat modern
Obat yang digubakan dengn bantuan mesin tanpa ada campur tangan manusia yang membuat
Kelebihannya : sterilisasi dan kebersihan dari obat itu terjaga
Kekurangannya : efek yang dirasakan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan obat tradisional
4.Mekanisme kerja obat dalam tubuh
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis
www.yoyoke.web.ugm.ac.id
DOSIS OBAT
1. Definisi
Adalah jumlah obat yang diberikan kepada penderita untuk satu kali pemakaian, dalam satuan berat ( gr, mg ) atau satuan isi ( mm, lt ) atau unit-unit lainnya ( unit internasional ) yang akan menimbulkan efek pengobatan.jika aturan pakai yg diminta untuk 1 hari maka dinamakan dosis sehari.
2. Fungsi
Menimbulkan efek terapi
Agar tidak menimbulkan toksis di dalam tubuh
3. Klasifikasi
Menurut jumlahnya :
Dosis minimal
Adalah dosis paling kecil yang masih mempunyai efek terapeutik
Dosis terapeutik
- Adalah dosis diantara dosis minimal dan maksimal
- Dosis yang dapat menimbulkan efek terapeutik optimal
Dosis maksimal
Adalah dosis terbesar yang mempunyai efek terapeutik tanpa gejala atau efek toksik.
Dosis toksik
Adalah dosis yang menimbulkan gejala keracunan
Dosis letal
Adalah dosis yang menimbulkan gejala kematian
Menurut waktu :
Dosis awal ( loading dose )
Dosis pemeliharaan ( maintenance dose )
Dosis regimen
4. Menghitung dosis anak
1. Berdasarkan perbandingan umur
( Rumus Young, Dilling, Cowling, Fried )
2. Berdasarkan berat badan
(Clark )
3. Berdasrkan LPT ( luas permukaan tubuh )
(Crawford )
5. Factor yang mempengaruhi
a. Factor obat
- Sifat fisika :
- Sifat kimiawi :
- Toksisitas :
b. Cara pemebrian obat kepada penderita
- Oral : dimakan atau dimunum
- Parenteral : injeksi ( im, iv, dll )
- Rectal : vagina, uretral
- Local, tropical, transdermal
- Lain-lain : implantasi , sublingual , intrabukal
c. Factor penderita / karakteristik penderita
- Umur : anak, dewasa, bayi
- Jenis kelamin : untuk obat jenis hormon
- Berat badan : walau sama2 dewasa berat badan sangat berbeda
- Obesitas : harus diperhitungkna untuk obat tertentu
- Laktasi
- Kehamilan
- Lingkungan
RESEP
1. definisi : permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien. Resep ditulis dengan terminologi dalam bahasa latin,
2. macam : (teknik penulisan, aspek hukum dan legalitas)
• Hal-hal yang harus dimuat dalam resep:
a) Nama, alamat dan nomor izin praktik dokter, dokter gigi, dan dokter hewan
b) Tanggal penulisan resep (inscriptio)
c) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat dan komposisi obat (invocatio/prescriptio)
d) Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
e) Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku (subscribtio)
f) Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan
g) Tanda seru (!) dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis rasional
Untuk keamanan perlu diperhatikan beberapa hal yang berkenaan dengan legalitas dan kelengkapan resep beserta obat yang tertulis.
1. Resep lengkap bila: memuat nama dokter yang membuat resep dan tempat serta tanggal pembuatan resep.
2. Resep legal bila mencantumkan nomor izin praktek.
3. Penulisan obat lengkap bila mencantumkan nama obat, jumlah obat, bentuk sediaan, aturan pakai, nama pasien, jenis kelamin dan umur.
Misalnya: R/ Ampisilin cap, 500 mg no XX.
S 3 dd 1
4. Penulisan obat rasional bila mengandung dua jenis obat yaitu obat pokok untuk penyebab penyakit seperti antibiotika pada infeksi dan obat tambahan untuk mengatasi gejala penyakit seperti batuk berdahak.
Misalnya:
/Ampicillin 500 mg XV S 3 dd 1
/Prome exp< ![endif]--> syr S 2 dd cts II
/Transbroncho< ![endif]--> XII S 2 dd 1
Obat pokok adalah Ampicillin sebagai antibiotika untuk infeksi. Obat tambahan adalah dua obat penyakit saluran pernapasan, seperti Prome exp dan Transbroncho.
5. Penulisan obat rasional bila tidak terdapat indikasi kontra atau larangan untuk menggunakannya dalam beberapa keadaan tertentu. Ia akan terlihat brosur dengan judul kontra indikasi. Misalnya beberapa antibiotika tidak boleh digunakan wanita hamil.
RESISTENSI
1. Definisi
Adalah keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Pada saat antibiotik diberikan, sejumlah kuman akan mati. Tapi kemudian terjadi mutasi pada gen kuman sehingga ia dapat bertahan dari serangan antibiotik tersebut. Kuman yang tidak bisa bertahan dari serangan antibiotik akan mati, tapi kuman yang mengalami mutasi akan bertahan dan hidup. Kuman ini lalu membelah dengan cepat dan terbentuklah jutaan koloni kuman yang mampu melawan antibiotik tersebut. Bila nanti kumpulan kuman ini menginfeksi individu lain, maka antibiotik tersebut tak akan mampu mengatasi infeksi tersebut.
Merupakan keadaan dimana mikroorganisme tidak dapat dihancurkan oleh antibiotic
Suatu keadaan dimana kuman yang semula peka terhadap obat kemudian menghasilkan generasi baru yang tidak peka terhadap obat tersebut
2. Ciri2
Terbentuknya generasi baru yang tahan terhadap obat
Factor pasiennya : tidak kunjung sembuh walau telah dilakukan pengobatan
3. Mekanisme terjadinya resistensi
Adanya system enzim dalam bakteri yang dapat merusak antibiotika
Merubah permeabilitas dindingnya bakteri menjadi kuat sehingga tidak dapat masuk ek dalam sel bakteri
Adanya system antagonisme resistensinya dalam bentuk sekresi suatu substansi oleh organisme
4. Faktor2 yang menyebabkan terjadinya resistensi
- Adanya factor genetic dari pasien terhadap bakterinya
Secara umum
- Penggunaan terlalu sering
- penggunaan obat terlalu lama
- Adanya pengulangan dan perpanjangan dosis yang tidak sesuai dengan anjuran dokter
- Pemutusan pemakaian
secara khusus
- genetic
terjadi perubahan genetic baik kromsonal maupun ekxtra kromosonal
- non genetik
Dokter :
Pemberian dosis yang tidak sesuai
Pasien :
Penggunaan tidak sesuai dengan dosis
Penggunaan obat tidak sesuai dengan anjuran dokter
respon dari mikroorganismenya, antara lain:
1. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang menghancurkan obat aktif.
2. Mikroorganisme mengubah permeabilitas terhadap obat. Contoh: streptokokus mempunyai barier permeabilitas terhadap aminoglikosida, jadi diperlukan obat yang aktif pada dinding sel yang simultan.
3. Mikroorganisme menyebabkan perubahan jalur metabolik yang melintasi reaksi yang dihambat oleh obat. Contoh: bakteri yang resisten terhadap sulfonamid tidak memerlukan PABAiii ekstraseluler, tetapi dapat menggunakan asam folat yang telah dibentuk sebelumnya.
4. Mikroorganisme menyebabkan perubahan target struktural pada obat.
5. Mikroorganisme memiliki enzim yang tidak begitu kuat dihambat oleh obat. Contoh: asam dehidrofolat reduktase dihambat tidak begitu kuat oleh mikrooganisme yang resistan terhadap trimetroprim
5. Cara2 pencegahan resistensi
- Penggunaan obat sesuai anjuran dokter
Meminum antibiotik hanya bila Anda memerlukannya dan bila diberi oleh dokter.
meminum antibiotik sampai habis sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikannya di tengah-tengah hanya karena Anda merasa sudah baikan
Janganlah minum antibiotik orang lain hanya karena Anda merasa penyakit Anda sama dengan orang tersebut
Janganlah membeli antibiotik sendiri untuk flu dan common cold, dan nyeri tenggorok. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus.
Cucilah tangan untuk menghindari penularan penyakit infeksi
STEP IV
Pasien
Dokter
Resep dosis irasional resisten
Obat BSO
BLOK VIII LBM 2
STEP I
1. Obat : sediaan atau paduan2 yg siap digunakan utntuk menyelidiki scr fisio dan pato dlm rangka penetapan diagnose pncegahan, pnyumbahan, pmulihan dan peningktan kesehatan
2. Resep obat : permintaan tertulis dr dokter kepada apoteker untuk mneyediakan dan mneyerahkan obat bagi penderita sesuai UU yang berlaku
3. Resep dokter : suatu pesan dr professional kesehatan kpd apoteker / terapis lain untuk memberikan terapi pada pasien
4. Dosis : suatu batas max yg masih aman u/ digunakan pasien ; jumlah/ kadar
5. Resisten : obat tidak dapat bekerja karena meminum tidak sesuai dengan aturan dosis ; tahan
6. Anamnesis : suatu cara yang dilakukan untuk menggali informasi dari pasien mengenai penyakitnya
STEP II
1. Obat dan aturan dosis yang tepat
2. Obat dan cara pemakainnya
3. Resistensi terhadap obat
4. Obat dan aturan dosis yang tepat agar tidak terjadi resistensi
5. PENGARUH DOSIS OBAT TERHADAP RESISTENSI
STEP III & VII
OBAT
1. Definisi
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Senyawa yang digunakan untuk mencegah, mengobati, mendiagnosa penyakit / gangguan, atau menimbulkan suatu kondisi tertentu
( farmakologi FK UI ed.5 )
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005)
Suatu bahan atau paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangkan, menghilangkan , menyembuhkan penyakit atau gejala, luka atau kelainan dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok atau memperindah badan ataua bagian tubuh manusia
Zat kimia yang mempengaruhi proses hidup yaitu metabolisme parasit penyebab penyakit dan metabolisme penderita ( farmakologi dan terapi FK UI ed.4 )
2. Fungsi
Secara umum :
Penetapan diagnose
Untuk pencegahan penyakit
Menyembuhkan penyakit
Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
Peningkatan kesehatan
Mengurangi rasa sakit
Menurut golongannya :
Remedia cardinale
Remidia adjuvantia
Remedia corrigens
Remedia constituen
3. Macam
Menurut sumbernya ( tumbuhan, hewan, mineral, cara pengolahannya )
Menurut BSO ( padat, setengah padat , cair )
Menurut golongan obatnya ( bebas, keras, bebas terbatas dan narkotika )
Menurut produksinya ( generic, paten, obat jadi, obat standart, asli, obat menurut komposisi dokter sendiri )
Menurut pengaruh dalam tubuh ( setempat dan seluruh system tubuh )
A. Bentuk sediaan ( cair, setengah padat, padat )
I. Cair
Obat luar
a. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
b. Mixtura
Adalah campuran homogeny cairan dengan cairan
Syarat mixture :
1. Harus homogeny
2. Tidak boleh ada endapan
3. Cairan yang satu dengan yang lain tercampur secara molekuler
c. Mixture agitanda
Obat cair yangmengadung bahan padat yang tudak larut dalam vehikulum, sehingga sebagian bahan obat berada berupa endapan.
d. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut tapi terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
e. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi/emulgator.
Obat suntik
a. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
Obat minum
a. Syrupus
Adalah bentuk sediaan cair yang mengandung saccarosa atau gula 40-60%. Sedangkan elixir mempunyai kandingan alcohol 8%.
Obat tetes
a. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tetes mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
II. Setengah padat
Encer / cairan kental
a. Linimentum
Adalah bentuk sediaan kental atau cair yang dioleskan pada kulit.
Keuntungan linimentum bila dibandingkan dengan unguentum :
1. Lebih mudah dicuci dari kulit, sehingga merupakan bentuk sediaan yang baik bila diberikan pada bagian kulit yang berambut, dan kulit muka serta kulit bayi yang halus
2. Penetrasi sediaan dari linimentum lebih baik dari sediaan unguentum
Setengah padat
a. Unguentum ( salep )
Sediaan setengah padat untuk digunakan sebagai obat luar, mudah dioleskan pada kulit tanpa kekerasan.
Konsistensinya seperti mentega
Dikelompokkan sebgai berikut :
1. Salep epidermis
2. Salep mukosa
3. Salep endodermik
4. Cream
5. jelly
b. Cremos
Merupakan suatu variasi dari salep dan juga disebut dngan cream.
Cream mengadung air yang memberikan rasa sejuk pada kulit
c. Pasta
Adalah obat luar yang digunakan untuk praktek dermatologi
Konsistensinya lebih kenyal dari unguentum
Lebih padat
a. Sapo / sabun
Didapat dengan proses penyabunan alkali dengan lemak atau asam lemak tinggi
Konsistensi sapo tergantung pada basa yang dipakai untuk proses penyabunan : KOH menghasilkan sabun lunak dan NaOH menghasilkan sabun keras
Penggunaan sabun :
1. Sabun kalinus / sabun hijau
- Masih mengadung glycerin didalamnya
- Digunakan sebagai detergen untuk membersihkan kulit pada saat persiapan operasi dan kulit yang berambut pada kondisi dermatologis
2. Sapo medicates / sabun obat
- Tidak ada glycerin di dalamnya
III. padat
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar dan bentuk tidak terbagi.(talk)
b. Pulveres / puyer
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan
3) Tablet Trikurat tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d. Pilulae ( PIL)
f. Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
d. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.
Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan
e. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Enema : konsistensi keras sedangkan supositoria sendiri lunak,berbentuk peluru.
B. Golongan obat menurut UU ( obat bebas, bebas terbatas, obat keras, obat narkotika )
1) Obat Bebas
merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2) Obat Bebas Terbatas
merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3) Obat Keras
merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung.
Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.
4) Obat Narkotika
merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.
Dari bahan bakunya ( obat tradisional dan modern )
a. Obat tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
b. Obat modern
Obat yang digubakan dengn bantuan mesin tanpa ada campur tangan manusia yang membuat
Kelebihannya : sterilisasi dan kebersihan dari obat itu terjaga
Kekurangannya : efek yang dirasakan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan obat tradisional
4.Mekanisme kerja obat dalam tubuh
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis
www.yoyoke.web.ugm.ac.id
DOSIS OBAT
1. Definisi
Adalah jumlah obat yang diberikan kepada penderita untuk satu kali pemakaian, dalam satuan berat ( gr, mg ) atau satuan isi ( mm, lt ) atau unit-unit lainnya ( unit internasional ) yang akan menimbulkan efek pengobatan.jika aturan pakai yg diminta untuk 1 hari maka dinamakan dosis sehari.
2. Fungsi
Menimbulkan efek terapi
Agar tidak menimbulkan toksis di dalam tubuh
3. Klasifikasi
Menurut jumlahnya :
Dosis minimal
Adalah dosis paling kecil yang masih mempunyai efek terapeutik
Dosis terapeutik
- Adalah dosis diantara dosis minimal dan maksimal
- Dosis yang dapat menimbulkan efek terapeutik optimal
Dosis maksimal
Adalah dosis terbesar yang mempunyai efek terapeutik tanpa gejala atau efek toksik.
Dosis toksik
Adalah dosis yang menimbulkan gejala keracunan
Dosis letal
Adalah dosis yang menimbulkan gejala kematian
Menurut waktu :
Dosis awal ( loading dose )
Dosis pemeliharaan ( maintenance dose )
Dosis regimen
4. Menghitung dosis anak
1. Berdasarkan perbandingan umur
( Rumus Young, Dilling, Cowling, Fried )
2. Berdasarkan berat badan
(Clark )
3. Berdasrkan LPT ( luas permukaan tubuh )
(Crawford )
5. Factor yang mempengaruhi
a. Factor obat
- Sifat fisika :
- Sifat kimiawi :
- Toksisitas :
b. Cara pemebrian obat kepada penderita
- Oral : dimakan atau dimunum
- Parenteral : injeksi ( im, iv, dll )
- Rectal : vagina, uretral
- Local, tropical, transdermal
- Lain-lain : implantasi , sublingual , intrabukal
c. Factor penderita / karakteristik penderita
- Umur : anak, dewasa, bayi
- Jenis kelamin : untuk obat jenis hormon
- Berat badan : walau sama2 dewasa berat badan sangat berbeda
- Obesitas : harus diperhitungkna untuk obat tertentu
- Laktasi
- Kehamilan
- Lingkungan
RESEP
1. definisi : permintaan tertulis dari seorang dokter kepada apoteker untuk membuat dan atau menyerahkan obat kepada pasien. Resep ditulis dengan terminologi dalam bahasa latin,
2. macam : (teknik penulisan, aspek hukum dan legalitas)
• Hal-hal yang harus dimuat dalam resep:
a) Nama, alamat dan nomor izin praktik dokter, dokter gigi, dan dokter hewan
b) Tanggal penulisan resep (inscriptio)
c) Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. Nama setiap obat dan komposisi obat (invocatio/prescriptio)
d) Aturan pemakaian obat yang tertulis (signatura)
e) Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku (subscribtio)
f) Jenis hewan dan nama serta alamat pemiliknya untuk resep dokter hewan
g) Tanda seru (!) dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis rasional
Untuk keamanan perlu diperhatikan beberapa hal yang berkenaan dengan legalitas dan kelengkapan resep beserta obat yang tertulis.
1. Resep lengkap bila: memuat nama dokter yang membuat resep dan tempat serta tanggal pembuatan resep.
2. Resep legal bila mencantumkan nomor izin praktek.
3. Penulisan obat lengkap bila mencantumkan nama obat, jumlah obat, bentuk sediaan, aturan pakai, nama pasien, jenis kelamin dan umur.
Misalnya: R/ Ampisilin cap, 500 mg no XX.
S 3 dd 1
4. Penulisan obat rasional bila mengandung dua jenis obat yaitu obat pokok untuk penyebab penyakit seperti antibiotika pada infeksi dan obat tambahan untuk mengatasi gejala penyakit seperti batuk berdahak.
Misalnya:
/Ampicillin 500 mg XV S 3 dd 1
/Prome exp< ![endif]--> syr S 2 dd cts II
/Transbroncho< ![endif]--> XII S 2 dd 1
Obat pokok adalah Ampicillin sebagai antibiotika untuk infeksi. Obat tambahan adalah dua obat penyakit saluran pernapasan, seperti Prome exp dan Transbroncho.
5. Penulisan obat rasional bila tidak terdapat indikasi kontra atau larangan untuk menggunakannya dalam beberapa keadaan tertentu. Ia akan terlihat brosur dengan judul kontra indikasi. Misalnya beberapa antibiotika tidak boleh digunakan wanita hamil.
RESISTENSI
1. Definisi
Adalah keadaan di mana kuman tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Pada saat antibiotik diberikan, sejumlah kuman akan mati. Tapi kemudian terjadi mutasi pada gen kuman sehingga ia dapat bertahan dari serangan antibiotik tersebut. Kuman yang tidak bisa bertahan dari serangan antibiotik akan mati, tapi kuman yang mengalami mutasi akan bertahan dan hidup. Kuman ini lalu membelah dengan cepat dan terbentuklah jutaan koloni kuman yang mampu melawan antibiotik tersebut. Bila nanti kumpulan kuman ini menginfeksi individu lain, maka antibiotik tersebut tak akan mampu mengatasi infeksi tersebut.
Merupakan keadaan dimana mikroorganisme tidak dapat dihancurkan oleh antibiotic
Suatu keadaan dimana kuman yang semula peka terhadap obat kemudian menghasilkan generasi baru yang tidak peka terhadap obat tersebut
2. Ciri2
Terbentuknya generasi baru yang tahan terhadap obat
Factor pasiennya : tidak kunjung sembuh walau telah dilakukan pengobatan
3. Mekanisme terjadinya resistensi
Adanya system enzim dalam bakteri yang dapat merusak antibiotika
Merubah permeabilitas dindingnya bakteri menjadi kuat sehingga tidak dapat masuk ek dalam sel bakteri
Adanya system antagonisme resistensinya dalam bentuk sekresi suatu substansi oleh organisme
4. Faktor2 yang menyebabkan terjadinya resistensi
- Adanya factor genetic dari pasien terhadap bakterinya
Secara umum
- Penggunaan terlalu sering
- penggunaan obat terlalu lama
- Adanya pengulangan dan perpanjangan dosis yang tidak sesuai dengan anjuran dokter
- Pemutusan pemakaian
secara khusus
- genetic
terjadi perubahan genetic baik kromsonal maupun ekxtra kromosonal
- non genetik
Dokter :
Pemberian dosis yang tidak sesuai
Pasien :
Penggunaan tidak sesuai dengan dosis
Penggunaan obat tidak sesuai dengan anjuran dokter
respon dari mikroorganismenya, antara lain:
1. Mikroorganisme menghasilkan enzim yang menghancurkan obat aktif.
2. Mikroorganisme mengubah permeabilitas terhadap obat. Contoh: streptokokus mempunyai barier permeabilitas terhadap aminoglikosida, jadi diperlukan obat yang aktif pada dinding sel yang simultan.
3. Mikroorganisme menyebabkan perubahan jalur metabolik yang melintasi reaksi yang dihambat oleh obat. Contoh: bakteri yang resisten terhadap sulfonamid tidak memerlukan PABAiii ekstraseluler, tetapi dapat menggunakan asam folat yang telah dibentuk sebelumnya.
4. Mikroorganisme menyebabkan perubahan target struktural pada obat.
5. Mikroorganisme memiliki enzim yang tidak begitu kuat dihambat oleh obat. Contoh: asam dehidrofolat reduktase dihambat tidak begitu kuat oleh mikrooganisme yang resistan terhadap trimetroprim
5. Cara2 pencegahan resistensi
- Penggunaan obat sesuai anjuran dokter
Meminum antibiotik hanya bila Anda memerlukannya dan bila diberi oleh dokter.
meminum antibiotik sampai habis sesuai petunjuk dokter. Jangan menghentikannya di tengah-tengah hanya karena Anda merasa sudah baikan
Janganlah minum antibiotik orang lain hanya karena Anda merasa penyakit Anda sama dengan orang tersebut
Janganlah membeli antibiotik sendiri untuk flu dan common cold, dan nyeri tenggorok. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh virus.
Cucilah tangan untuk menghindari penularan penyakit infeksi
STEP IV
Pasien
Dokter
Resep dosis irasional resisten
Obat BSO
22 Juni, 2009
blok 7,2 akrilik
STEP 1
1.Protesa gigi : gigi tiruan lengkap sbg pengganti geligi yg hilang
2.akrilik : sejenis kaca yg punya sifat spt plastic,tidak mudah pecah
3.lilin gigi : bahan lunak yg diperolaeh dr tumbuhan/serangga scr sintetik
STEP 2
- langkah2 pembuatan protesa gigi
- manipulasi bahan dalm pembuatan protesa gigi
STEP 3
Protesa gigi
1. def
2. fungsi
akrilik resin
1. def : sejenis kaca yg punya sifat spt plastic,tidak mudah pecah
2. fungsi : utk protesa gigi
3. komposisi : polimer yg mrpkan turunan etilen.polimer n liquid,PMMA,inorganic pigmen
4. syarat2 : tdk tooksik,tdk iritan,transparan,elastis tinggi
5. cara manipulasi
6. klasifikasi
7. kelebihan & kekurangan
8. polimerisasi
9. sifat
10. kesalahn & penanggulangan
wax
1. def
2. fungsi
3. komposisi
4. syarat2
5. cara manipulasi
6. klasifikasi
7. kelebihan & kekurangan
8. sifat
9. kesalahn & penanggulangan
STEP 4
STEP 5
STEP 7
Protesa gigi
1. def : gigi tiruan lgkap dan sebagian sbgai pengganti gigi yg hgilang serta struktur yg menyertai dr suatu struktur gigi d rahang.
2. fungsi :
- membuat gigi palsu,memperbaiki fgsi pengunyahan,
Untuk memulihkan kembali fungsi pengunyahan yang berkurang karena hilangnya satu atau lebih gigi asli.
Untuk memperbaiki estetika dan penampilan
Untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan gusi
Untuk memulihkan kembali fungsi bicara
akrilik resin
1. def : plastic yg digunakan dlm kedogi yg tedri dr derivate akrilik acid
substansi plastic yg padat pd suhu kamar n mencair bila dipanaskan
turunan etilen yg mengandung gugus vinil dalm rumus strukturnya jg mrpkn jenis resin sintetik yg byak digunakan dlm kedogi sbg basis gigi tiruan
plastic yg mrpkn cmpuran suatu polimer (bubuk) n monomer (cair)
2. fungsi : memneri retensi n stabilitasi pd gigi tiruan,t4 elemen/anasir gigi menempel,myalurkan kekuatan(tekanan oklusi)dr gigi ke mukosa (jar,pendukung) dan gigi lainnya,bahan pengisi pola pd pembuatan protesa gigi.
3. komposisi :
powder berisi polimerPPMA
liquid berisi monomer sbg activator jg tdp inhibitor.cmpuran ester alcohol,pitaliglikolat.
a. Powder
1). Polimer methacrilat
2). Organic peroxide initiator
3). Titanium dixide agent
4). Inorganic pigments (for color)
b.
b. Liquid
1). Methil metacrilateilate
2). Hidroquinon inhibitor
3). Dymethacrilate / cros linked agent
4). Organic amine accelerator
5). Dyed syntetic fibers (for estetic)
4. syarat2 :
- biologis : tidak iritan
- fisis : tahan thd tekanan
- estetik : transluensi,dpt dipigmentasi
- penanganan : tidak beruap slm dimanipulasi,
- ekonomis : murah
- penampilan akrilat scr keseluruhan : bahn yg kimia n stabil yg dapt bertahan.
5. cara manipulasi : widi
- persiapan
- pengadukan bahan,ratio 3:1
- pengisian pd kuvet
- polimerisasi pd suhu 60-70 drajt
- pengerutan
- penyelesaian
tia+ivi
- ratio 3-3,5:1
- dicampu di tempat tertutup smpai stadium dough
- stadium2
- pengisian
- cured,dpanaskan
- suhu n pemansan hrus dikontrol (72 drajat slama 16 jam,72 slm 2 jam stlah itu dinaikan smpai 100 drajat dmn masih ada monomer)
- pendinginan
- deflasking,pengeluaran bahan cetakan,digunakan suspensi batu apung
6. klasifikasi
mnrut ADA : widi
- heat cured / hot cured :tdd bubuk dan liquid,larut dlm ester alcohol
- cold cured/self cured :aktivasi pd suhu kamar,utnuk penyembuhan pd protesa gigi yg patah,porus lbh banyak
- gel.mikro : hmpr spt heat cured,proses lbh cepat,sgat mahal
- visible light resin : tnp metal metakrilat,lgsung pd gips
ivi,ADA no 12
I: heat cured / hot cured : btuh panas,pling byak digunakan
II : cold cured/self cured/autopolymerizable
III: thermoplastic blank or powder : mlunak ktika dipanaskan,kmdian dibentuk,dngan pendinginan akan mengeras.
IV: visible light resin
V : microwave : dgn energi gel.miro,dng kuvet non logam.
7. kelebihan & kekurangan
+ : murah,mudah,sedehana,mdah direparasi
- : mudah patah,tjd perubahan dimensi,porositas yg mempengaruhi perubahan warna.
v Kebaikan
1. Warna menyerupai gigi
2. Mudah direstorasi kembali bila patah tanpa mengalami distorsi
3. Mudah dibersihkan
4. Mudah pengerjaanya dan manipulasinya
5. Kekuatannya cukup
6. Harganya cukup murah dan tahan lama
v Keburukan
1. Mudah patah
2. Menimbulkan macam-macam porositas
3. Suatu termal konduktor yang baik
4. Dapat mengalami perubahan bentuk
5. Toleransi pasien kurang
6. Dapat menimbulkan alergi
8. polimerisasi : ?
yutia
kondensasi : tdp hasil samping
adisi :
aktivasi :
inisiasi : pembentukan radikal bebas
propagasi : rx monomer n radikal bebas
terminasi : 2 rad bebas membentuk polimer stabil
9. sifat
porositas/gasseus porosity,mmpu menyerap air,crazing/retak,koef ekspansi termal,kerja bahan pelarut,radiolucent,reaksi alergi.
Mekanis : punya modulus elastisitas tinngi
Fisis : ekspansi termis
10. kesalahan & penanggulangan : widi
- distribusi panas tidk merata
- cmpuran kurang homogen
- ada monomer sisa
penanggulangan : mengatur suhu dan waktu
wax
1. def : substansi plastic yg padat pd suhu kamar n mencair bila dipanaskan
slah 1 bahan termoplastik yg tdd bahan inorganis dan bahan alami shg membuatnya berguna n sempurna.
tdd suatu alkohol (rantai panjang alkohol, sterol, hidroksi karotenoid, vitamin A) dan rantai asam yang sangat panjang (wax ester)
2. fungsi :
- restortatif
- sbg pola material pembantu dlm pencetakan gigi
- untuk pencetakan, konstruksi bahan basis gigi tiruan nonmetalik, merekam hubungan rahang ?, dan pekerjaan laboratorium
3. komposisi
resin n getah 39 – 53 %
polisakarida 2-3 %
bahan lain 12 %
wax kedogi
35 % dr minyak esensial
4. syarat2 :
mdh dibentk,bs dicair padatkan,tanpa residu.
Stabil pada suhu mulut
Dapat mengisi rongga cetak
Non iritan dan non toxic
Tidak meninggalkan residu jika disiram air
Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan
Mudah dibentuk dalam temperatur tertentu
Setelah dingin dapat mempertahankan bentuknya
Dalam keadaan lunak dapat beradaptasi dengan permukaan lain
Dalam keadaan keras dapat diukir
Melting range cukup lama
Dapat dicairkan dan dipadatkan berkali-kali
Jika dibentuk tidak robek atau retak
5. cara manipulasi
1. malam sebelum dipanaskan adalah mudah mengalami flaking/ patah/ robek karena struktur bentuk kristalnya.
2. pemanasan secara merata pada seluruh permukaan malam akan menjadikan malam mudah dimanipulasikan pada model.
3. bila sisi yang dipanaskan hanya sebagian maka panas tidak akan disebarkan ke sisi lain sehingga sisi tempat pemanasan akan mencair.
4. pemanasan yang merata akan mengurangi tegangan dalam.
5. untuk malam inlay cor, harus hati-hati bila melunakan batangan malam agar tidak terlalu panas.
6. malam diputar-putar sampai mengkilap kemudian dijauhkan dari api. Hal ini diulang sampai malam menjadi hangat seluruhnya.
7. malam kemudian diuli dan dibentuk kedalam kavitas preparasi.
8. tekanan harus diaplikasikan dengan jari
9. malam menjadi dingin secara berangsur-angsur.
6. klasifikasi widi
asal
NATURAL WAX
A.mineral : paraffin wax
B.serangga : beeswax(ester kompleks)
C.tumbuhan : carnauba,candelila(paraffin,alcohol)
D.binatang : spermwhale
SINTETIK
Dr komposisi
- hidrokarbon
- ester
FUNGSI
Pola
A.base plate wax
B.casting wax : malam tuang
C.inlay wax : direct n indirect
Proses
A.boxing wax
B.utility wax : tdd petroleum n beeswax
C.sticky wax : tdd resin alami n getah dammar
Cetak
A.corrective wax
B.bite wax
LILIN YG DIPAKE DLM KEDOGI
- MALAM MODEL
- MALAM TUANG LEMBAR
- MALAM INLAY
- BOXING WAX
- MALAM CETAK
- MALAM PEREKAT
7. kelebihan & kekurangan
+ :
Stabil pada suhu mulut
Dapat mengisi rongga cetak
Non iritan dan non toxic
Tidak meninggalkan residu jika disiram air
Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan
Mudah dibentuk dalam temperatur tertentu
Setelah dingin dapat mempertahankan bentuknya
Dalam keadaan lunak dapat beradaptasi dengan permukaan lain
Dalam keadaan keras dapat diukir
Melting range cukup lama
Dapat dicairkan dan dipadatkan berkali-kali
Jika dibentuk tidak robek atau retak
- : mudah rapuh (beeswax),isolator shg panas tidak merata
8. sifat :
- suhu transisi padat - padat/solid2 transition temperature
- flow/aliran
- internal stress / residual stress
- melting range
- termal ekspansion ( kontraksi suhu turun)
9. kesalahn & penanggulangan
- pemanasan tidak merata shg tidak smoothing
1.Protesa gigi : gigi tiruan lengkap sbg pengganti geligi yg hilang
2.akrilik : sejenis kaca yg punya sifat spt plastic,tidak mudah pecah
3.lilin gigi : bahan lunak yg diperolaeh dr tumbuhan/serangga scr sintetik
STEP 2
- langkah2 pembuatan protesa gigi
- manipulasi bahan dalm pembuatan protesa gigi
STEP 3
Protesa gigi
1. def
2. fungsi
akrilik resin
1. def : sejenis kaca yg punya sifat spt plastic,tidak mudah pecah
2. fungsi : utk protesa gigi
3. komposisi : polimer yg mrpkan turunan etilen.polimer n liquid,PMMA,inorganic pigmen
4. syarat2 : tdk tooksik,tdk iritan,transparan,elastis tinggi
5. cara manipulasi
6. klasifikasi
7. kelebihan & kekurangan
8. polimerisasi
9. sifat
10. kesalahn & penanggulangan
wax
1. def
2. fungsi
3. komposisi
4. syarat2
5. cara manipulasi
6. klasifikasi
7. kelebihan & kekurangan
8. sifat
9. kesalahn & penanggulangan
STEP 4
STEP 5
STEP 7
Protesa gigi
1. def : gigi tiruan lgkap dan sebagian sbgai pengganti gigi yg hgilang serta struktur yg menyertai dr suatu struktur gigi d rahang.
2. fungsi :
- membuat gigi palsu,memperbaiki fgsi pengunyahan,
Untuk memulihkan kembali fungsi pengunyahan yang berkurang karena hilangnya satu atau lebih gigi asli.
Untuk memperbaiki estetika dan penampilan
Untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan gusi
Untuk memulihkan kembali fungsi bicara
akrilik resin
1. def : plastic yg digunakan dlm kedogi yg tedri dr derivate akrilik acid
substansi plastic yg padat pd suhu kamar n mencair bila dipanaskan
turunan etilen yg mengandung gugus vinil dalm rumus strukturnya jg mrpkn jenis resin sintetik yg byak digunakan dlm kedogi sbg basis gigi tiruan
plastic yg mrpkn cmpuran suatu polimer (bubuk) n monomer (cair)
2. fungsi : memneri retensi n stabilitasi pd gigi tiruan,t4 elemen/anasir gigi menempel,myalurkan kekuatan(tekanan oklusi)dr gigi ke mukosa (jar,pendukung) dan gigi lainnya,bahan pengisi pola pd pembuatan protesa gigi.
3. komposisi :
powder berisi polimerPPMA
liquid berisi monomer sbg activator jg tdp inhibitor.cmpuran ester alcohol,pitaliglikolat.
a. Powder
1). Polimer methacrilat
2). Organic peroxide initiator
3). Titanium dixide agent
4). Inorganic pigments (for color)
b.
b. Liquid
1). Methil metacrilateilate
2). Hidroquinon inhibitor
3). Dymethacrilate / cros linked agent
4). Organic amine accelerator
5). Dyed syntetic fibers (for estetic)
4. syarat2 :
- biologis : tidak iritan
- fisis : tahan thd tekanan
- estetik : transluensi,dpt dipigmentasi
- penanganan : tidak beruap slm dimanipulasi,
- ekonomis : murah
- penampilan akrilat scr keseluruhan : bahn yg kimia n stabil yg dapt bertahan.
5. cara manipulasi : widi
- persiapan
- pengadukan bahan,ratio 3:1
- pengisian pd kuvet
- polimerisasi pd suhu 60-70 drajt
- pengerutan
- penyelesaian
tia+ivi
- ratio 3-3,5:1
- dicampu di tempat tertutup smpai stadium dough
- stadium2
- pengisian
- cured,dpanaskan
- suhu n pemansan hrus dikontrol (72 drajat slama 16 jam,72 slm 2 jam stlah itu dinaikan smpai 100 drajat dmn masih ada monomer)
- pendinginan
- deflasking,pengeluaran bahan cetakan,digunakan suspensi batu apung
6. klasifikasi
mnrut ADA : widi
- heat cured / hot cured :tdd bubuk dan liquid,larut dlm ester alcohol
- cold cured/self cured :aktivasi pd suhu kamar,utnuk penyembuhan pd protesa gigi yg patah,porus lbh banyak
- gel.mikro : hmpr spt heat cured,proses lbh cepat,sgat mahal
- visible light resin : tnp metal metakrilat,lgsung pd gips
ivi,ADA no 12
I: heat cured / hot cured : btuh panas,pling byak digunakan
II : cold cured/self cured/autopolymerizable
III: thermoplastic blank or powder : mlunak ktika dipanaskan,kmdian dibentuk,dngan pendinginan akan mengeras.
IV: visible light resin
V : microwave : dgn energi gel.miro,dng kuvet non logam.
7. kelebihan & kekurangan
+ : murah,mudah,sedehana,mdah direparasi
- : mudah patah,tjd perubahan dimensi,porositas yg mempengaruhi perubahan warna.
v Kebaikan
1. Warna menyerupai gigi
2. Mudah direstorasi kembali bila patah tanpa mengalami distorsi
3. Mudah dibersihkan
4. Mudah pengerjaanya dan manipulasinya
5. Kekuatannya cukup
6. Harganya cukup murah dan tahan lama
v Keburukan
1. Mudah patah
2. Menimbulkan macam-macam porositas
3. Suatu termal konduktor yang baik
4. Dapat mengalami perubahan bentuk
5. Toleransi pasien kurang
6. Dapat menimbulkan alergi
8. polimerisasi : ?
yutia
kondensasi : tdp hasil samping
adisi :
aktivasi :
inisiasi : pembentukan radikal bebas
propagasi : rx monomer n radikal bebas
terminasi : 2 rad bebas membentuk polimer stabil
9. sifat
porositas/gasseus porosity,mmpu menyerap air,crazing/retak,koef ekspansi termal,kerja bahan pelarut,radiolucent,reaksi alergi.
Mekanis : punya modulus elastisitas tinngi
Fisis : ekspansi termis
10. kesalahan & penanggulangan : widi
- distribusi panas tidk merata
- cmpuran kurang homogen
- ada monomer sisa
penanggulangan : mengatur suhu dan waktu
wax
1. def : substansi plastic yg padat pd suhu kamar n mencair bila dipanaskan
slah 1 bahan termoplastik yg tdd bahan inorganis dan bahan alami shg membuatnya berguna n sempurna.
tdd suatu alkohol (rantai panjang alkohol, sterol, hidroksi karotenoid, vitamin A) dan rantai asam yang sangat panjang (wax ester)
2. fungsi :
- restortatif
- sbg pola material pembantu dlm pencetakan gigi
- untuk pencetakan, konstruksi bahan basis gigi tiruan nonmetalik, merekam hubungan rahang ?, dan pekerjaan laboratorium
3. komposisi
resin n getah 39 – 53 %
polisakarida 2-3 %
bahan lain 12 %
wax kedogi
35 % dr minyak esensial
4. syarat2 :
mdh dibentk,bs dicair padatkan,tanpa residu.
Stabil pada suhu mulut
Dapat mengisi rongga cetak
Non iritan dan non toxic
Tidak meninggalkan residu jika disiram air
Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan
Mudah dibentuk dalam temperatur tertentu
Setelah dingin dapat mempertahankan bentuknya
Dalam keadaan lunak dapat beradaptasi dengan permukaan lain
Dalam keadaan keras dapat diukir
Melting range cukup lama
Dapat dicairkan dan dipadatkan berkali-kali
Jika dibentuk tidak robek atau retak
5. cara manipulasi
1. malam sebelum dipanaskan adalah mudah mengalami flaking/ patah/ robek karena struktur bentuk kristalnya.
2. pemanasan secara merata pada seluruh permukaan malam akan menjadikan malam mudah dimanipulasikan pada model.
3. bila sisi yang dipanaskan hanya sebagian maka panas tidak akan disebarkan ke sisi lain sehingga sisi tempat pemanasan akan mencair.
4. pemanasan yang merata akan mengurangi tegangan dalam.
5. untuk malam inlay cor, harus hati-hati bila melunakan batangan malam agar tidak terlalu panas.
6. malam diputar-putar sampai mengkilap kemudian dijauhkan dari api. Hal ini diulang sampai malam menjadi hangat seluruhnya.
7. malam kemudian diuli dan dibentuk kedalam kavitas preparasi.
8. tekanan harus diaplikasikan dengan jari
9. malam menjadi dingin secara berangsur-angsur.
6. klasifikasi widi
asal
NATURAL WAX
A.mineral : paraffin wax
B.serangga : beeswax(ester kompleks)
C.tumbuhan : carnauba,candelila(paraffin,alcohol)
D.binatang : spermwhale
SINTETIK
Dr komposisi
- hidrokarbon
- ester
FUNGSI
Pola
A.base plate wax
B.casting wax : malam tuang
C.inlay wax : direct n indirect
Proses
A.boxing wax
B.utility wax : tdd petroleum n beeswax
C.sticky wax : tdd resin alami n getah dammar
Cetak
A.corrective wax
B.bite wax
LILIN YG DIPAKE DLM KEDOGI
- MALAM MODEL
- MALAM TUANG LEMBAR
- MALAM INLAY
- BOXING WAX
- MALAM CETAK
- MALAM PEREKAT
7. kelebihan & kekurangan
+ :
Stabil pada suhu mulut
Dapat mengisi rongga cetak
Non iritan dan non toxic
Tidak meninggalkan residu jika disiram air
Tidak berubah sifat fisis jika dipanaskan
Mudah dibentuk dalam temperatur tertentu
Setelah dingin dapat mempertahankan bentuknya
Dalam keadaan lunak dapat beradaptasi dengan permukaan lain
Dalam keadaan keras dapat diukir
Melting range cukup lama
Dapat dicairkan dan dipadatkan berkali-kali
Jika dibentuk tidak robek atau retak
- : mudah rapuh (beeswax),isolator shg panas tidak merata
8. sifat :
- suhu transisi padat - padat/solid2 transition temperature
- flow/aliran
- internal stress / residual stress
- melting range
- termal ekspansion ( kontraksi suhu turun)
9. kesalahn & penanggulangan
- pemanasan tidak merata shg tidak smoothing
Langganan:
Postingan (Atom)